Pakistan Memasuki Periode Pra-Revolusi: Peran Kaum Marxis di Pakistan

Ditulis Oleh Ted Sprague

Pembunuhan pemimpin Partai Rakyat Pakistan (Pakistan People’s Party/PPP), Benazir Bhutto, telah menggoncang sendi-sendi sosial dan politik di Pakistan. Habis sudah batas kesabaran Rakyat Pakistan. Sekarang, seluruh pelosok negara sedang dilanda oleh gelombang-gelombang demo dan kerusuhan. Pemerintahan diktatur Musharaf tidak mampu menghentikan kemarahan rakyat, dan harus menggunakan tentara dan polisi untuk menembaki rakyat mereka sendiri. Sampai hari ini, 38 orang telah mati terbunuh semenjak ledakan kerusuhan yang terjadi setelah pembunuhan Benazir.

Musharaf, dan tuan-tuan imperialis mereka, mencoba menenangkan rakyat Pakistan dengan menyatakan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda ada di balik pembunuhan berdarah-dingin ini. Tetapi kebohongan ini tidak diterima begitu saja oleh rakyat Pakistan, sudah cukup mereka mendengar kebohongan-kebohongan ini. Kita dengar massa di jalan-jalan yang berteriak: “Musharaflah yang membunuh Bhutto”. Mereka mengerti bahwa kekuatan reaksionerlah yang membunuh pemimpin partai massa mereka.

Penjelasan (baca: kebohongan) mengenai peran Al-Qaeda ini adalah seperti mencoba menyalahkan nasib atau takdir dari langit yang kurang beruntung. “Ah, itu karena Al-Qaeda! Kami tidak bisa berbuat apa-apa, mereka adalah kekuatan yang besar dan tidak bisa dikalahkan. Tapi jangan kawatir, kami akan mencari mereka di gunung-gunung dan di gua-gua”, begitulah kira-kira penjelasan dari pemerintahan Musharaf. “Semua adalah salahnya Al-Qaeda! Kemiskinan, ketidakadilan, kekacauan, kelaparan yang ada di negeri! Jangan kawatir, kami akan memburu mereka ke gunung-gunung dan gua-gua”. Sungguh suatu penjelasan yang mudah dicerna, tetapi juga mudah dimuntahkan oleh rakyat yang sudah lelah akan penindasan mereka.

 
Tentu saja kita mengerti bahwa kekuatan islam fundamentalis dan pemerintahan Musharaf, beserta tuan-tuan imperialisnya, adalah dua sisi dari koin yang sama. Mereka memainkan peran yang sama. Di Pakistan, aktivis-aktivis pro-demokrasi juga dibunuhi secara kejam oleh bandit-bandit fundamentalis ini. Secara historis, kelompok-kelompok fundamentalis ini dulunya dibentuk dan didanai oleh Amerika Serikat dan sekutunya untuk memerangi Uni Soviet dan juga untuk memerangi gerakan buruh revolusioner di daerah Timur Tengah dan Asia Selatan. Sekarang, kelompok-kelompok fundamentalis ini berbalik menggigit tuannya sendiri. Tetapi, bilamana terjadi gerakan revolusioner kembali di sana, suatu gerakan revolusioner yang akan menghancurkan bukan hanya kapitalisme tetapi juga kebangkrutan feudalisme dan fundamentalisme, dua kekuatan reaksioner ini (yakni kekuatan imperialis “demokrasi” dan fundamentalisme) akan segera bersatu. 

 
Pemerintahan Musharaf juga mencoba menyalahkan Bhutto sendiri yang tidak menggubris bahaya serangan teroris terhadapnya. Ini seperti menyalahkan korban pemerkosaan atas perkosaan yang terjadi pada dirinya: “Siapa suruh anda memakai rok yang memperlihatkan lutut? Ini salah anda yang menggoda batin sang pemerkosa”. Pernyataan-pernyataan seperti ini hanya membuat rakyat semakin marah dan semakin muak dengan Musharaf.

 
Jelas bahwa pembunuhan ini hanyalah salah satu bagian dari rencana kaum reaksioner untuk memadamkan gerakan rakyat Pakistan yang sudah mulai menyala semenjak kepulangan Bhutto. Ini bukanlah aksi spontanitas dari seorang yang kacau pikirannya. Ini adalah aksi terencana dari suatu sistem yang sudah mulai layu dan akan hancur. Ini adalah aksi politik dengan basis kelas yang jelas, yakni kelas kapitalis. Dan untuk menghadapi ini, rakyat Pakistan juga harus mengorganisir dirinya sebagai kelas, yakni sebagai kelas pekerja yang merupakan anti-tesis dari kelas kapitalis.

 
Peran Kaum Marxis Pakistan

 
Saat ini, kemarahan rakyat terekspresikan ke dalam demo-demo dan kerusuhan yang tidak terorganisir. Untuk memberikan suatu ekspresi yang terorganisir, kaum Marxis Pakistan dari kelompok “The Struggle” sudah menyerukan slogan Mogok Kerja Nasional. Tetapi slogan ini sangatlah sulit dilaksanakan secara konkrit karena besarnya gerakan ini, yang mencakupi jutaan rakyat yang belum terorganisir dan tidak terlatih secara politis, ditambah lagi oleh kesedihan emosional yang melanda rakyat banyak. Di bawah kondisi seperti ini, ribuan kader revolusioner tidaklah cukup pengaruhnya untuk mengintervensi secara segara. Kader-kader “The Struggle” juga menghadapi masalah logistik yang menyulitkan. Mereka hampir tidak bisa bergerak; tidak ada kereta api, bis, ataupun pesawat terbang; tidak ada bensin dan pom-pom bensin tutup; jalan-jalan penuh dengan mobil-mobil dan barang-barang terbakar; stasiun kereta api terbakar; dan kekerasan di jalanan telah memberikan negara sebuah alasan untuk mengirim tentara dan memberikan perintah tembak-di-tempat.

 
Oleh karena itu, gerakan protes massa ini tidak memiliki kepemimpinan dan tujuan yang jelas, dan akhirnya segera berubah menjadi kekacauan, kerusuhan, dan penjarahan. Tidak diragukan ada elemen lumpen-proletar dan kriminal yang mengambil kesempatan di dalam kekacauan ini. Dan tidak diragukan juga kalau kaum reaksioner mendukung tindakan-tindakan kriminal tersebut supaya gerakan massa ini bisa didiskreditkan sebagai gerakan kerusuhan, dan memberikan alasan bagi pemerintah untuk menggunakan kekerasan, menetapkan keadaan darurat, dan mengundur pemilu pada tanggal 8 Januari, dimana bisa dipastikan PPP akan meraih kemenangan telak pada hari tersebut.

 
Seperti yang Alan Woods tulis di dalam artikelnya (Pakistan: Government covers up the crime – masses demand action against conspirators):

 
“Protes yang kacau dan tidak terorganisir sekarang ini tidak akan memberikan capaian apapun. Mereka harus digantikan dengan sebuah gerakan protes nasional yang terorganisir, dimana kelas pekerja harus mengambil kepemimpinan. Daripada membakar ban-ban dan mobil, yang dibutuhkan sekarang adalah mengorganisir para garda depan proletar secepat mungkin dan mempersiapkan sebuah gerakan massa revolusioner dalam skala nasional, dan mengedepankan slogan-slogan transisional yang sesuai dengan mood dan aspirasi massa”

Ya, benar; hanya kelas pekerjalah yang bisa memberikan kepemimpinan revolusioner yang terorganisir bagi gerakan protes ini. Banyak orang yang berpikir bahwa tidak ada gerakan buruh revolusioner di Pakistan, dan bahwa Pakistan adalah negara yang penuh dengan fanatik agama. Gambaran Pakistan tersebut adalah keliru dan merupakan bagian dari kebohongan kelas penguasa yang ingin menggambarkan Pakistan (dan keseluruhan Asia Selatan dan Timur Tengah) sebagai pusat fundamentalisme, sebagai pusat “axis of evil”. Dibalik semua itu ada kelas pekerja yang militan dan revolusioner, ada gerakan Marxis yang dipimpin oleh “The Struggle” dengan ribuan kadernya.

 
Kaum Marxis “The Struggle” sekarang berusaha mengintervensi gerakan massa ini dan memberikannya sebuah ekspresi yang terorganisir. Kamerad Manzoor Ahmed, yang juga merupakan anggota parlemen di Pakistan, memimpin sebuah demonstrasi dengan ribuan orang di daerahnya, yakni di Kasur, Punjab. Mereka telah menyebarkan 100 ribu selebaran yang berjudul: “Darah Benazir adalah darahmu: Sekarang Revolusi pasti tiba!”, yang berisi tuntutan-tuntutan:

  1. Hukum semua konspirator pembunuhan Benazir
  2. Singkirkan Musharraf
  3. Pemilu yang bebas dan jujur harus segera dilaksanakan
  4. PPP harus kembali ke program sosialis tahun 1970    
  5. Bentuk komite-komite perjuangan dan agitasi
  6. Mogok Kerja Nasional Satu Hari

 
Pembentukan komite-komite aksi harus segera dilaksanakan untuk mengorganisir gerakan massa. Kaum Marxis Pakistan sudah memulai mengorganisir komite-komite tersebut di pabrik-pabrik besi di Karachi. Mereka juga sedang mengorganisir komite-komite aksi kaum muda-mudi. Komite-komite aksi ini harus dibentuk juga di setiap pabrik, tempat kerja, kampus, desa-desa, wilayah distrik, dsb.

 
Hari ini (Minggu), tiga hari berduka cita akan berakhir dan kondisi lapangan akan menjadi lebih mudah untuk mengorganisir massa. Kamerad “The Struggle” akan melanjutkan tugas revolusionernya dan menyebarkan ide-ide dan slogan-slogan yang dapat membimbing massa. Gerakan revolusioner di Pakistan bisa menjadi pemicu dan inspirasi bagi gerakan revolusioner di Asia. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan sebesar-besarnya dari seluruh gerakan pro-demokrasi revolusioner sedunia.

 
Referensi: “Pakistan: Government covers up the crime – masses demand action against conspirators” oleh Alan Woods, 31 Desember 2007.

*Penulis adalah aktivis International Marxist Tendency (IMT)

~ oleh Anti Capitalism pada Februari 25, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: