Keluarga Subeno

Cerpen : A. Kohar Ibrahim

ORANG tahu perasaan cinta itu dapat menimbulkan persoalan dan keajaiban yang tak berhingga. Dari yang paling menyenangkan sampai yang paling menyedihkan. Sekalipun demikian, orang masih sering merasa terheran-heran akan kejadikan tragis yang berpautan dengan cinta. Seperti yang dialami oleh rekanku Subeno yang berpangkat Mayor Jenderal itu.

“Tahu kau? Isteriku makin lama makin kurang waras,” katanya suatu hari. Mengeluh. Tak habis pikir. “Segalanya tersedia. Apapun maunya aku penuhi. Shoping ke Singapura atau Hongkong atau ke mana saja. Tak pernah aku halang-halangi. Tetapi sejak kehilangan Jono, dia seperti kehilangan segala-galanya. Kerjanya sehari-harian cuma nyetel video-tivi — nonton film harakiri atawa kisah patah hati.”

MEMANG benar, keluarga Mayjen Subeno tergolong “Seratus Keluarga Terkaya” di Nusantara. Dwi-fungsi baginya suatu hal yang benar-benar bermakna luar biasa. Bahkan merupakan fungsi bersegi banyak — terutama dalam bisnis. Perusahaan-perusahaan di bawah pengawasannya kian bertambah dan berkembang maju. Sejumlah perusahaan berhasil dirangkum dalam genggamannya. Tetapi sukses dalam bisnis tak terimbang oleh kehidupan keluarga pribadinya. Sekian lama berkeluarga, hanya punya seorang putera. Karenanya dimanjakanlah seperti seorang putera pangeran atau raja. Apa saja yang diinginkan oleh anak tunggalnya itu maka dipenuhinya. Motor, mobil atau perahu pesiar dan entah apa lagi menurut ulahnya semuanya dipenuhinya. Kecuali satu hal yang terakhir: cinta.

Sebagai seorang bapak, Subeno gagal memenuhi suara hati anak tunggalnya itu. Cinta yang murni memang tak dapat dibeli. Dia tahu itu. Dari pengalamannya sendiri semasa muda maupun setelah berkedudukan atau berpengalaman. Seorang macam dia enak saja menggauli wanita-wanita cantik di geisha Tokyo atau hotel-hotel kelas satu di Hongkong, Singapura atau di Jakarta. Kekayaannya mengizinkan dia untuk menikmati apa yang mau dinikmatinya, membeli apa yang mau dibelinya. Akan tetapi, mengenai keinginan puteranya itu memang tidaklah mudah.

Semula, ketika didengarnya bahwa anaknya yang setelah mencapai usia sembilanbelas tahun itu jatuh cinta, dianggapnya itu wajar saja. Ketika dia dengar kemudian bahwa anaknya itu semakin tergila-gila pada gadis pilihannya, juga masih dianggapnya wajar saja. Sekalipun mulai timbul kekhawatiran akan bisa mengganggu studinya. Dan kekhawatiran itu bertambah ketika Jono ingin segera dikawinkan. Pada akhirnya dia terkejut ketika mengetahui bahwa kekasih puteranya itu sudah mengandung. Lebih dahsyat lagi keterkejutannya ketika diselidiki, Darmini, calon menantunya itu ternyata puteri seorang eks-tapol.

“Kau betul-betul telah bertindak gegabah!” katanya dengan nada amat gusar di depan anak dan isterinya. “Kau boleh minta apa saja, boleh kawin dengan siapa saja — kecuali dengan anak eks-tapol, ngerti?”

Ujar kata sang bapak itu seperti denyar halilintar. Dan tak bisa digugat. Betapapun upaya Jono dan sang ibu.

“Jangan jumpai dia lagi!” kata Subeno seraya mengancam: “Putuskan hubungan kalian. Jika tidak, awas!”

“Tak bisa begitu, Pak. Tak bisa!” Jono memelas sekaligus memberontak. Perasaan kesalnya tak terkendalikan.

Dalam pertengkaran terakhir dia membulatkan tekad untuk hidup bersama wanita kesayangannya dan menjadi seorang bapak. Seperti kuda liar dia cepat melompat meninggalkan rumah. Kabur dengan Toyota Merah yang meluncur gagah menuju tempat kediaman Darmini. Di Slioi. Tapi tak dijumpainya. Menurut Bibi yang mengasuh Darmini sejak lama, sejak orangtuanya dijebloskan dalam penjara, kekasihnya itu telah pulang mudik. Ke rumah neneknya di Bogor. Dan berpesan agar lebih baik Jono tak usah menemuinya lagi.

Mendengar penjelasan itu Jono yang berbadan tegap tampan itu seperti kehilangan kepala. Diremas-remasnya rambutnya. Giginya bergemeretak. Dahinya berkerut.

“Tak mungkin begitu, Mini! Tak mungkin begitu!” gumamnya dirangsang rasa gelisah.

Seperti kesetanan cepat dia melompat berada di belakang setir Toyotanya. Menancap gas. Bertolak menuju Bogor. Di benaknya tak ada yang lain kecuali Darmini kesayangannya yang lagi mengandung. Dalam kecepatan yang luar biasa dan kerna kelengahan seketika… sang Toyota bertabrakan dengan sebuah truk militer. Ringsek. Sedangkan mobil yang ditabrak nyaris terbalik. Jono tewas seketika. Sopir truk hanya luka-luka ringan.

PERISTIWA itu menyebabkan hati dan pikiran isteri Subeno amat tersiksa. Terganggu kenangan dan kesedihan yang berat. Terasa memang ada kelainan dalam bercakap-cakap dengannya, kebanding masa sebelum tertimpa kemalangan itu.

Memang Ia menyayangi suaminya sebagai suami dan berupaya memahami segala perbuatannya. Dari mulai berpangkat rendah di zaman Sukarno sampai berpangkat tinggi dan menjadi kaya raya. Sungguh suaminya itu orang berjasa pada negara dalam periode 1965-1975. Kemudian amat berjasa bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi anak-anak-angkatnya. Sesungguhnyalah, suaminya itu sebagai sumber sekaligus pembina sumber-sumber bagi kehidupan materilnya yang melimpah-ruah. Itu dari pihak suami. Dari pihak anak ternyata sangat berbeda. Kasih-sayangnya kepada Jono, putera tunggalnya itu, tak dapat dibandingkan dengan apa dan siapapun.

Hal itu tak mudah difahami orang, bahkan oleh kalangan orang terdekatnya, termasuk suaminya sendiri. Hingga suatu ketika di tengah malam buta terdengar suara ledakan. Subeno terkejut, terjaga dari tidurnya. Dirabanya kepala dan anggota tubuhnya — masih utuh. Tapi di sampingnya isterinya tiada. Dia tergeletak di kamar mandi. Darah mengalir dari mulut, hidung dan tengkuknya.

Setelah kehilangan anak, malam itu Subeno kehilangan isteri dan sebutir peluru pistolnya. ***

~ oleh Anti Capitalism pada Februari 14, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: