Tentang Sudjinah

Oleh : fransisca ria susanti

EMAIL itu saya baca saat gelap sudah memeluk kota dan udara pengap musim panas masih bergelung di dalam flat. Isinya, kabar duka dari Jakarta tentang perempuan yang menutup mata Kamis siang, 6 September 2007.

Tujuh bulan sebelumnya, perempuan itu masih saya temukan duduk di ruang makan dengan buku di atas meja dan tangan rentanya sibuk membalik kertas dan menggeser kaca pembesar.

“Kisahku ada di buku ini,” ujarnya menengok sekilas saat saya baru melewati pintu masuk.

Ia menunjukkan sekilas cover buku tersebut dan mengeja nama penulisnya. Lalu ia kembali meneruskan membaca.

“Udah baca?,” tanyanya.

Saya mengangguk.

“Kisahku ada di buku ini,” ulangnya sambil kembali membalik halaman depan dan mengeja nama penulisnya.

Ia tak mengenali saya.

Sebuah titipan saya ambil dari dalam tas sambil membayangkan rentetan pertanyaan yang akan ia lontarkan jika saya sebut nama Saskia Wieringa. Saya tak yakin ia mengingat Professor Belanda yang memanggilnya dengan sebutan “Tante Djin” itu.

“Ada titipan dari Saskia Wieringa,” ujar saya sambil menyerahkan titipan tersebut.
Wajahnya berbinar, lebih tepatnya sorot di matanya.

“Hei, bagaimana kabar dia? Aku menemani dia wawancara untuk pembuatan bukunya,” urainya panjang lebar sambil mencoba mengingat judul buku yang ditulis Saskia.

“Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia,” ujar saya menyebut judul buku terbitan Kalyana Matra yang ditulis oleh Saskia.

Saya tak habis pikir bagaimana ia masih bisa mengingat detil soal perjalanan wawancaranya dengan Saskia. Sementara dengan wajah orang yang berulang kali bertemu dengannya, juga dengan aktivitas yang baru saja ia lakukan, ia kadang susah mengingat.

***

SUDJINAH, sosok perempuan itu, saya kenal lewat sebuah “insiden” makan siang. Restoran Manado yang terletak di Jalan Keramat V, Jakarta Pusat awalnya menjadi tujuan pertama untuk urusan mengisi perut.

Hingga kemudian plang “Waluyo Sejati Abadi” yang terletak di seberang warung makan tersebut menarik perhatian.

Saya tahu nama itu. Sebuah panti jompo yang baru saja diresmikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Taufik Kiemas pada 8 Februari 2004. Media massa menyebut sejumlah anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menghabiskan masa tua di tempat itu.

Saat saya menyampaikan salam di depan pintu pagar yang separuh terbuka, seorang perempuan usia 70-an yang tengah sibuk menyapu halaman, bergegas membuka.

Perempuan itu kemudian saya tahu bernama Lestari. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di hotel prodeo hanya gara-gara aktivitasnya di Gerwani. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Gerwani Cabang Bojonegoro.

Di tempat itu, saya seperti merasa “pulang” ke rumah. Sambutan para perempuan lanjut usia yang menghuni rumah itu, juga cara mereka menyapa, membuat betah.

Deretan kisah mengalir dari mulut mereka, usai saya memperkenalkan diri. Semua tentang masa lalu, tentang sebuah fitnah dan rentetan penderitaan yang mesti mereka tanggung kemudian.

Di tengah-tengah aliran kisah inilah, saya terpaku pada sosoknya. Perempuan tertua yang menjadi penghuni rumah No. 1C itu.

“Aku dulu seorang wartawan,” ujarnya dengan senyum tersimpul di bibirnya. Ia mengaku punya banyak nama. Ia menguasai beberapa bahasa dan ia selalu menyebut nama Soekarno dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan.

Lahir di Solo pada 27 Juli1928, ayahnya, seorang pegawai Keraton Surakarta, memberinya nama Sudjinah. Ia sulung dari empat bersaudara. Menyelesaikan HIS di zaman Belanda dan sempat mencecap pendidikan MULO selama setahun, sebelum kemudian Jepang datang.

Saat perang merebut kemerdekaan, remaja Sudjinah turut aktif di garis depan depan pertempuran. Ia menjadi anggota Mobile Pelajar, juga Pemuda Putri Indonesia. Pada tahun 1949, ia menjadi kurir Batalyon Bramasta di selatan Bengawan Solo.

Tahun 1950, Sudjinah kembali ke Solo, melanjutkan sekolah dan kemudian ke Yogyakarta untuk menyelesaikan SMA.

Lulus SMA pada tahun 1952, Sudjinah mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada (UGM). Sayang, ia tak menyelesaikan pendidikan sarjananya karena beasiswanya terhenti di tengah jalan.

Namun di kampus biru inilah, Sudjinah semakin aktif terlibat di Pemuda Rakyat (PR) yang merupakan kelanjutan dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan juga berkecimpung di Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang merupakan cikal bakal Gerwani.

Dalam kongres I Gerwis yang digelar di Surabaya pada tahun 1951, Sudjinah juga hadir sebagai peserta. Ia terdaftar di Gerwis cabang Yogya dan menjadi anggota yang sangat aktif.

Tahun 1955, seiring dengan berhentinya aktivitas kuliah di UGM karena tak ada lagi kucuran beasiswa, Sudjinah dipercaya oleh Pemuda Rakyat untuk menjadi wakil mereka dalam Festival Pemuda Sedunia ke-5 yang digelar di Warsawa, Polandia.

Dalam festival yang diorganisir oleh World Federation of Democratic Youth ini, dibahas tentang upaya melawan ancaman nuklir, juga perjuangan mengakhiri kolonialisme. Lebih dari 30.000 delegasi dari 114 negara hadir dalam festival ini.

“Aku bertemu dengan banyak orang, dari berbagai negara,” ujarnya 49 tahun setelah peristiwa itu berlalu. Ia menceritakan dengan wajah berbinar sambil sesekali mengipasi tubuhnya dengan koran karena udara siang yang panas mulai bergelung di dalam teras.

Usai menghadiri Festival tersebut, Sudjinah dapat tugas baru. Ia diminta Gerwani untuk bekerja di Sekretariat Gabungan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS) yang berkantor di Berlin Timur. Dalam Kongres II yang digelar di Jakarta, Gerwis sepakat untuk mengubah nama menjadi Gerwani.

Menurut keterangan Umi Sardjono, Ketua Gerwani yang dipilih dalam Kongres II, perubahan nama itu dilakukan setelah banyak kritik yang muncul dari anggota. Perubahan nama itu juga menjadikan keanggotaan Gerwani lebih longgar. Organisasi perempuan yang awalnya merupakan fusi dari tujuh organisasi perempuan lainnya itu, kini menjadi organisasi berbasis massa, terbuka untuk semua perempuan yang berusia di atas 18 tahun atau yang telah menikah.

Sementara sebelumnya, ketika masih bernama Gerwis, organisasi ini hanya menerima keanggotaan dari perempuan yang “sedar” atau memiliki kesadaran jelas soal sosialisme, sebuah organisasi yang berbasis pada kader.

Dalam ingatan Umi, Gerwis cabang Surabaya adalah kelompok yang paling keras mengkritik syarat keanggotaan. Menurut kelompok Surabaya, target perluasan anggota tidak akan tercapai dua kali lipat setiap tahun jika syarat keanggotaan hanya ditujukan bagi mereka yang “sedar”. Mereka juga mengkritik bahwa jika program-program yang dilancarkan Gerwani terlalu radikal, maka tidak akan “laku” di pasaran. “Mereka mengatakan Gerwis terlalu sektaris,” ujar Umi.

Kritik inilah yang kemudian membuat Gerwis memperlonggar syarat keanggotaan dan mengganti nama organisasi menjadi Gerwani.

Di bawah panji Gerwani inilah, Sudjinah bekerja di Sekretariat GWDS yang berkantor di sebuah apartemen yang terletak di ruas Oranke Strass.

Saya takjub mendengarkan Sudjinah berkisah tentang Oranke Strauss. Di tengah kesulitannya mengingat nama orang yang sudah beberapa kali dijumpa, ia masih ingat detil apartemen yang pernah ia tempati. Juga sejumlah kawan yang bekerja bersamanya di Sekretariat, mulai dari Amerika Serikat, Italia, Prancis, Irak, Swedia, India, dan Spanyol.

Dalam kenangan Sudjinah, masa-masa bekerja di GWDS adalah masa yang menyenangkan. Aktivitas yang ia jalani selama dua tahun itu membuatnya bisa hadir dalam berbagai konferensi internasional, dari Helsinki, Kopenhagen, Lausanne hingga Paris.

Pulang ke Indonesia di tahun 1957, Sudjinah tak lagi cuma dikenal sebagai aktivis Gerwani, tapi juga seorang jurnalis. Tulisan-tulisan rutin yang ia kirim saat berada di Berlin, terpampang di Harian Rakyat, koran milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Ini membuatnya terpacu untuk menekuni dunia jurnalistik sekembalinya dari Berlin. Ia menjadi jurnalis freelance di sejumlah surat kabar dan penerjemah untuk kantor berita Pravda (milik Uni Soviet). Ia juga menulis sejumlah cerita pendek.

Seolah aktivitas tersebut belum membuatnya sibuk, Sudjinah masih menyediakan diri sebagai penerjemah di kantor DPP Gerwani.

Tahun 1963, ia diminta membantu sebagai penerjemah bagi delegasi buruh perempuan Indonesia yang akan menghadiri pertemuan di Bukarest, Rumania. Ketua delegasinya adalah Sri Ambar Rukmiati yang memimpin seksi wanita Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Sri Ambar ini pula yang pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S)/1965 diseret ke depan pengadilan bersama Sudjinah dan dua perempuan lainnya, yakni Sulami (Sekretaris Jenderal II Gerwani) dan Suharti Harsono (kader Barisan Tani Indonesia).
Dalam catatan sejarah, dari ribuan perempuan yang ditangkap pasca G30S/1965, hanya empat perempuan itulah yang dibawa ke meja hijau. Sudjinah dijatuhi hukuman 18 tahun penjara, Sulami 20 tahun penjara dan Sri Ambar serta Suharti Harsono masing-masing 15 tahun penjara.

***

“Namamu sama dengan nama samaranku dulu,” ujar Sudjinah pada sebuah siang yang lain kepada seorang wartawati dari Sinar Harapan yang menemani saya ke Keramat V. Ia memegang tangan wartawati tersebut kuat-kuat, kemudian matanya berpindah dari saya ke kawan tersebut.

“Aku pernah seperti kalian. Muda dan jadi wartawan,” ujarmya.

Lalu ia berkisah tentang nama yang berubah-ubah, juga gaya rambut dan potongan baju. Ia melakukan itu saat peristiwa subuh 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya telah meletus.

“Aku menerbitkan bulletin unruk membela Bung Karno,” ungkapnya bersemangat.

Nama bulletin tersebut Pendukung Komando Presiden Soekarno (PKPS).

Sudjinah, bersama Sulami, menyebarkannya secara sembunyi-sembunyi saat tembok-tembok kota di Jakarta sudah dipenuhi dengan cacian dan umpatan bahwa Gerwani adalah pemotong pelir para jenderal.

Sudjinah mengenang bahwa ia pergi ke sejumlah kedutaan untuk memasukkan buletin tersebut, bahkan ia sempat bersembunyi di dalam selokan untuk menghindari kejaran militer yang telah berpindah haluan ke Soeharto.

“Aku pernah pakai wig warna-warni,” ujarnya geli sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, menggambarkan model wig yang ia pakai.

Namun seluruh perjuangannya membela Soekarno mesti berakhir tragis. Bersama Sulami, Sri Ambar, dan Suharti Harsono, ia dijebloskan ke Bukit Duri dan masuk dalam sel isolasi. Namun sebelum itu, mereka mengalami penyiksaan fisik yang luar biasa. Padahal sejumlah pimpinan tertinggi Gerwani, termasuk Ketua Umum Umi Sardjono dan Sekjen Kartinah Kurdi, yang ditangkap pada tahun 1965 tak mendapatkan penyiksaaan fisik.

Menurut Umi Sardjono, pembedaan perlakuan itu disebabkan karena militer melihat aktivitas yang dilakukan setelah PKI dan organisasi yang dianggap berafiliasi dengannya dinyatakan sebagai terlarang, masuk dalam golongan aktivis masa epilog. “Orang-orang yang tertangkap dengan tudingan ini biasanya mendapatkan siksaan sangat kejam,” ungkap Umi.

Kepada saya, Sudjinah berkisah tak detil soal penyiksaan tersebut. Namun dalam bukunya “Terempas Gelombang Pasang” yang diterbitkan Pustaka Utan Kayu tahun 2003, Sudjinah berkisah tentang “rumah setan”. Ini adalah sebuah bekas sekolah Tionghoa di ruas Jalan Gunung Sahari yang dipakai sebagai tempat penyiksaan para korban yang ditangkap karena keterkaitan mereka dengan G30S/1965. Penyiksaan luar biasa yang terjadi di rumah itu membuatnya layak disebut demikian.

Di rumah ini, Sudjinah bersama Sulami ditempatkan di sel sempit yang penuh dengan bercak darah di tembok. Hampir tiap hari mereka mendengar jerit kesakitan dari ruang yang dipakai untuk tempat interogasi.

Dalam interogasi, Sudjinah dipaksa mengakui kerja-kerja bawah tanahnya. Namun ia bungkam. Pukulan rotan dari delapan interogator di tubuh telanjangnya tetap tak mampu membuatnya bicara. Juga intimidasi psikologis saat ia dipaksa menyaksikan penyiksaan seorang kawan yang digigit telinganya hingga putus.

Alih-alih bicara, Sudjinah justru muntah di wajah interogatornya karena tak tahan menahan muak. Ia muntah persis saat wajah interogator tersebut mendekat dan nyaris menyentuh pipinya. Akibatnya, ia kembali dipukuli dengan rotan hingga pingsan.

Juni 1967, Sudjinah bersama Sulami dipindahkan ke kamp tahanan lain yang membuat mereka kemudian bertemu dengan Sri Ambar dan Suharti Harsono yang ditangkap lebih dulu pada September 1966.

Beberapa waktu kemudian, mereka dipindah ke Penjara Bukit Duri dan diisolasi khusus hingga kemudian mendapatkan vonis pengadilan pada awal 1980.

***

Haryo Sasongko, mantan wartawan yang juga penulis sejumlah buku tentang tragedi 1965, mengirim “Wasiat Sudjinah” ke sejumlah milis, beberapa hari setelah Sudjinah menutup mata.

Isinya, pesan Sudjinah untuk mengumpulkan dan menerbitkan dokumen yang pernah ia tulis dengan pensil dalam penjara di Tangerang.

Dokumen itu, menurut wawancara Haryo Sasongko dengan Sudjinah di tahun 2000, diserahkan sembunyi-sembunyi oleh Sudjinah kepada seorang wartawan yang berhasil masuk ke penjara dengan menyamar sebagai kuli bangunan.

Sudjinah ingin dokumen itu dibukukan dan mengusulkan judul “Aku Pendukung Bung Karno Sampai Mati.”

Dalam “Terempas Gelombang Pasang”, Sudjinah menyebut nama Doris sebagai “penyelundup” sejumlah tulisannya. Tapi tak jelas apakah Doris yang mengaku sebagai mahasiswa Institut Teknik untuk bisa masuk ke penjara tersebut adalah orang sama yang dikatakan Haryo Sasongko sebagai wartawan yang menyamar sebagai kuli bangunan. Sudjinah sendiri kepada Haryo Sasongko minta agar nama wartawan tersebut dirahasiakan.

Dalam surat elektronik kepada saya, Haryo Sasongko memperkirakan wartawan tersebut kini berusia 70-an. Ia tak tahu dimana posisinya sekarang, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Ia mengaku merasa berdosa kepada Sudjinah karena belum berhasil menemukan wartawan tersebut.

Sudjinah berhubungan dengan wartawan tersebut saat ia mulai dipindahkan ke Penjara Tangerang pasca vonis 18 tahun penjara yang dijatuhkan pengadilan pada tahun 1980. Di Tangerang inilah, Sudjinah punya kesempatan menulis setelah berhasil “menipu” petugas dengan meminta kertas untuk membuat desain pola sulaman.

Sebagian tulisan ini berhasil diselundupkan Sudjinah keluar oleh seseorang yang ia sebut bernama Doris. Saat Sudjinah keluar dari penjara, Doris memberikan kembali tulisan-tulisan tersebut sehingga kemudian bisa diterbitkan dalam bentuk buku.

Sudjinah menghirup udara bebas pada 17 Agustus 1983 setelah 16 tahun meringkuk dalam penjara. Namun ia masih berada dalam pengawasan ketat selama dua tahun lagi untuk menggenapi vonis hukumannya selama 18 tahun. Ia diwajibkan lapor ke Kodim setempat sekali dalam sepekan. Jika ia ketahuan melarikan diri dalam rentang waktu dua tahun tersebut, maka keluarga atau kerabat yang ia tinggali harus menjadi gantinya untuk ditahan.

Seorang kerabat jauh bernama Ny. Widodo bersedia menampung Sudjinah begitu keluar dari penjara. Guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Sudjinah bekerja sebagai penerjemah berbahasa Belanda pada seorang dosen yang mengajar di Universitas Indonesia. Pekerjaan ini ia peroleh lewat seorang guru yang mengajar bahasa Belanda di Erasmus Huis. Sudjinah memang memutuskan untuk mengasah bahasa Belandanya dengan kursus di Erasmus Huis. Ia lulus ujian dengan nilai cum laude.

Selama empat tahun, Sudjinah bekerja sebagai penerjemah dosen UI yang kemudian hari dia tahu bahwa aktivitas dosen itu juga berhubungan dengan Amnesty Internasional.

Ketika keluarga dosen tersebut dipaksa meninggalkan Indonesia karena ketahuan berhubungan dengan Amnesty Internasional, pekerjaan Sudjinah pun berakhir.

Oleh mereka, Sudjinah disarankan untuk menguasai bahasa Inggris dengan sempurna. Dengan saran ini, Sudjinah mendaftar kursus di Lembaga Indonesia Amerika (LIA). Saat itu, menurutnya, apapun yang berkaitan dengan Amerika dianggap baik.

Sertifikat dari LIA ini yang membuatnya kemudian bisa berhubungan dengan sejumlah organisasi nonpemerintah (ornop), setelah sebelumnya ia juga berhubungan dengan sejumlah intelektual Australia yang menaruh perhatian pada nasib eks tapol dan napol 1965.

***

Binar di mata dan bibir yang selalu membentuk senyum itu adalah kenangan yang selalu tertinggal tentang Sujinah. Juga dengan daster longgar yang selalu ia pakai untuk menghalau panas.

Nyaris tak pernah saya menemukan ia sedang bicara tentang hal remeh atau mengeluh tentang sakit yang menggerogoti umur tuanya atau sunyi yang menjadi karibnya di panti jompo.

“Aku habis operasi usus buntu, jadi sekarang mesti makan bubur,” ujarnya suatu senja saat saya menemukannya tengah menunggu semangkuk bubur panas agar cukup dingin untuk dimakan.

Ya, begitu saja ia bercerita soal sakitnya. Selebihnya, ia kembali bercerita tentang Oranke Strass, buletin PKPS, cerita pendeknya, dan penyamarannya.

Atau kalau tidak, ia akan meminta dibawain oleh-oleh koran atau majalah untuk mengetahui perkembangan situasi terakhir. Kemudian membuat analisa dengan perbandingan historisnya.

Di kalangan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Sudjinah dikenang sebagai sosok perempuan pemberani. Rumah kontrakannya di Jakarta Selatan, tempat ia tinggal sebelum memutuskan bergabung di Panti Jompo, menjadi saksi keberanian dia untuk menampung para aktivis PRD saat jadi buronan aparat pasca peristiwa 27 Juli 1997.

Stigma tentang Gerwani yang dipasokkan Orde Baru selama puluhan tahun ternyata gagal membunuh semangat Sudjinah, juga keberanian dan keyakinannya. Dia selalu percaya pada api dari generasi yang lahir setelah masa porak-poranda itu.

“Kamu harus belajar banyak bahasa dan tak boleh berhenti menulis,” ujarnya saat saya pamit di senja bulan Februari 2007.

Tujuh bulan kemudian, kabar duka itu saya terima.

Selamat jalan Ibu.

~ oleh Anti Capitalism pada Februari 12, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: