Jas, Tongkat dan Kesunyian

INDRA TRANGGONO

Laki-laki tua itu berjalan terbungkuk-bungkuk, diiringi derai suara
batuk. Dengan tongkatnya, ia menyusuri jalanan desa Tawang Abang. Jas
potongan kuno yang riuh dengan hiasan pangkat-pangkat telah lekat di badan
karena cucuran keringat. Di dekat gedung sekolah, ia berhenti melepas lelah.
Bagi anak-anak, kehadiran laki-laki itu selalu dianggap aneh dan merangsang
untuk digoda.
“Mbah Jagal… siapa lagi yang mau kamu sembelih?” teriak si Gendut.
“Katanya tukang jagal, kok tidak bawa pedang?” sahut si Gundul.
“Pembunuh jelek!” teriak si Jegrak.
Mbah Jagal mengedarkan pandangan. Lalu pelan-pelan bangkit. Kaki dan
tangannya pasang kuda-kuda bak pendekar. Anak-anak itu terus menghajarnya
dengan ejekan. Wajah Mbah Jagal tampak mengeras, urat-uratnya menguat. Kulit
di pipi dan keningnya terlipat. Beberapa detik ia menarik nafas. Nafas itu
lalu dilepas bersama gerakan tongkatnya yang sangat cepat berkelebat.
Anak-anak tak menduga, orang tua itu masih cukup tangkas. Mereka pun lari
lintang pukang. Mbah Jagal makin meradang. Ia memukul apa saja yang ada di
dekatnya: pagar besi sekolah, kaleng minuman ringan yang terserak di tanah.
Ada juga terdengar botol minuman pecah. Ia pun berteriak-teriak menumpahkan
sumpah serapah, “O… dasar anak-anak komunis!”
Di kejauhan, anak-anak itu masih mengejeknya dengan gerakan-gerakan
lucu tapi menyakitkan. Ada yang menungging menunjukkan pantatnya. Ada yang
berkacak pinggang sambil menantang. Ada yang menjulurkan lidahnya. Tapi Mbah
Jagal tak menanggapi. Ia menghilang di tikungan jalan.
Mbah Jagal sangat suka mengumpat dengan kata “komunis”. Konon, sejak
muda, tepatnya setelah geger 1965, kata-kata itu selalu melekat di mulutnya.
Bukan hanya orang lain yang disemprot dengan kata-kata kasar itu. Tapi juga
istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, menantu-menantunya, bahkan
besannya. Banyak orang tersinggung. Tapi potongan badannya yang tinggi
besar, wajahnya yang keras, lengannya yang penuh tonjolan otot, jari-jarinya
yang sebesar pisang susu, matanya yang selalu melotot, dan watak
ringan-tangannya, membuat banyak orang keder. Dia pun punya kebiasaan
mengadu gigi-giginya hingga terdengar suara gemeretuk; semacam orang yang
selalu gemas melihat orang lain untuk ditaklukkan.
Sebutan Mbah Jagal punya riwayat. Nama aslinya Jawad. Ketika di desa
Tawang Abang terjadi “pembersihan” orang-orang yang dianggap tersangkut PKI,
Jawad ditarik sebagai anggota “tenaga operasional” oleh tentara. Dengan
mantap dan bangga, Jawad menjalankan tugas itu. Dia menganggap tugas itu
sebagai bela negara.
Jika malam tiba, Jawad selalu mengenakan pakaian seragam. Wajahnya
selalu dibebat kain hitam. Golok atau parang selalu ada di tangan. Dengan
cekatan ia menebas batang-batang leher orang seperti menebas pohon pisang.
Bat-bet. Bukan hanya belasan atau puluhan, tapi sudah ratusan orang tewas
ditebas Jawad. Pada saat mengayunkan goloknya itu ia selalu mengumpat,
“dasar komunis kamu!”
Orang-orang yang kebetulan berpapasan atau sedang asyik di warung kopi
selalu menyingkir setiap melihat Jawad. Mereka seperti melihat ada ratusan
kepala manusia yang bergelantungan di tubuh Jawad. Mereka selalu mencium bau
anyir darah dalam setiap tetes keringat pembunuh setengah resmi itu.
Kehadiran Jawad selalu menimbulkan aroma kematian.
Ketika usia Jawad menginjak lima puluh tiga tahun dan punya beberapa
cucu, orang-orang memanggil Jawad dengan sebutan Mbah Jagal, sebuah sebutan
yang baginya sangat membanggakan. Dan untuk menunjukkan dirinya “orang
terpandang”, Mbah Jagal selalu mengenakan banyak pangkat yang dibuatnya
sendiri.
Kini usia Mbah Jagal hampir 75 tahun. Keperkasaannya makin rapuh.
Pandangannya makin kabur. Omongannya makin ngelantur. Karena sering
mengamuk, anak-anaknya pernah memasukkan Mbah Jagal ke rumah sakit jiwa.
Tapi dia meronta-ronta. Ia tinggal di rumah sakit itu hanya beberapa malam.
Dia lebih senang tinggal di kamarnya, yang dibentuknya mirip rumah
tahanan, lengkap dengan ruang penuh jeruji dan ruang interogasi. Di kamar
itu ia sering bicara sendiri. Lengkap dengan “baju kebesarannya”, jas kuno
penuh hiasan pangkat.
“Sarbani, ngaku saja kamu ini orangnya PKI” ucap Mbah Jagal.
“Bukan PKI. Tapi BTI. Eh, maaf, saya cuma sering antre pupuk di kantor
BTI,” jawab Mbah Jagal yang memerankan Sarbani.
Mbah Jagal mengangguk-angguk kepala, mengedarkan senyuman tipis,
sinis. “Katanya kamu siap jadi pupuk revolusi?”
“Sarbani” gemetar. Mata Mbah Jagal menatap dengan nanar. Dalam
sekejap, Mbah Jagal mengayunkan parang. Lalu tersenyum. “Sarbani” pun
tumbang. Selesai memerankan Sarbani, Mbah Jagal bangkit kembali, dengan
nafas setengah tersengal. Ia melanjutkan permainannya.
“Sekarang kamu, Darsiwi. Kamu orang Lekra? Ngaku saja!” tanya Mbah
Jagal dengan wajah yang distel sangat seram.
“Bukan. Saya cuma pernah ikut menyanyi Genjer-genjer…,” suara Mbah
Jagal berubah jadi perempuan.
“Cuma ikut menyanyi? Apa tidak ada lagu lain? Kenapa bukan Garuda
Pancasila, Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, atau Sorak-sorak Bergembira?!”
“Darsiwi” terdiam. Peluhnya membasahi tubuhnya (Mbah Jawad memerankan
tokoh perempuan itu dengan cukup meyakinkan: ekspresi ketakutan, bibir dan
tangan gemetar atau pandangan kosong penuh keputusasaan).
“Kenapa diam?” desak Mbah Jagal.
“Saya tidak tahu. Saya cuma ikut-ikutan. Waktu itu, saya cuma ingin
bisa bergembira saja,” ucap “Darsiwi” gemetar. Ruang sekitar terasa
berputar.
“Cuma ingin gembira?! Padahal itu kan sangat membahayakan negara!”
Mbah Jagal meradang.
“Mosok, cuma karena lagu negara jadi berbahaya…?”
“Nah ketahuan sekarang. Kamu memang kader komunis. Orang biasa tak ada
yang berani membantah! Kamu memang kader. Siapa yang menggembleng kamu?!
Siapa? Jangan-jangan kamu ini binaan Aidit atau Nyoto!”
“Darsiwi” tak paham. Ia ingin bicara. Tapi, belum sempat mulutnya
mengucap kalimat, parang Mbah Jagal kembali berkelebat. Mbah Jagal tertawa.
Tubuh “Darsiwi” tumbang.
Agak lama Mbah Jagal bangun setelah memerankan Darsiwi. Nafasnya
pendek-pendek. Keringatnya mengucur. Tapi ia belum ingin mengakhiri
permainan yang baginya sangat mengasyikkan itu. Kini, Mbah Jagal memerankan
seorang atasan.
“Jawad, aku kagum dengan kehebatanmu. Aku harap kekejamanmu harus
dipelihara dan ditingkatken. Hari ini kamu sukses membunuh seratus lima
puluh orang. Besok harus ditingkatken jadi dua ratus, tiga ratus, lima
ratus. Kejam itu boleh, asal tetap sopan. Negara ini harus bebas dari
ancaman daripada orang-orang komunis.” Mbah Jawad tertawa.
“Siap! Terima kasih, Pak Komandan. Eee boleh saya tanya. Apa membunuh
seperti ini tetap ada hukumnya?” Jawad memerankan dirinya, sambil
membungkuk-bungkuk.
“Hukum? Tidak ada itu. Orang seperti kita ini, tidak bisa salah.
Paham? Kerna kitalah yang menentuken daripada hukum itu. Paham?”
“Paham, Pak Komandan. Sangat paham. Eeee, kalau semua tugas ini sudah
selesai bagaimana nasib saya?”
“Maumu apa Tuan Jawad?”
“Titip anak saya. Tidak banyak. Cuma lima. Mereka kepingin jadi
pegawai negeri atau pengusaha….”
“O itu. Bisa. Bisa. Nanti saya titip-titipken.”
“Kalau soal pangkat untuk saya?”
“Pangkat? Untuk apa?”
Jawad tertawa, setengah malu, “Ya agar saya tampak gagah, Pak.”
“Bikin saja sendiri. Terserah kamu.”
Jawad tertawa hingga matanya basah.
Ruang kamar itu penuh deraian tawa Jawad. Dari lipatan ingatannya
berputar seluruh kenangan. Gambar-gambar itu muncul susul-menyusul. Truk
yang menderu. Tentara-tentara turun dan masuk kampung. Pintu-pintu rumah
yang digedor-gedor. Orang-orang yang digelandang. Ruang tahanan. Padang
pembantaian. Jeritan orang meregang nyawa. Dirinya yang berjalan di antara
mayat-mayat berserakan. Kali-kali penuh mayat. Lalu sepi.
Tawa Jawad terhenti. Mendadak ia menangis. Tangisan itu mengalun
panjang. Terbayang di benaknya wajah Sarbani, Darsiwi, Mintoko, Rajul, Ali,
Gondes, Menggik, Pardi Gudel, Jamani, Ribut, Warni, Ningsih, Lamido, Harti,
Rabejo, Wakidah, Ratmi, dan ratusan orang lainnya yang telah meregang nyawa
di ujung parangnya. Wajah-wajah itu menatap tajam dengan bola mata serupa
api. Mereka mendekat, makin mendekat. Jawad terkepung. Ia tak bisa
meloloskan diri. Wajah-wajah itu terus mendesaknya. Menekannya. Jiwa Jawad
menggigil.
Sosok-sosok berwajah beku namun dengan tatapan mata bola api itu
semakin rapat mengepung Jawad. Jutaan pori-pori tubuh Jawad berpesta peluh
dingin. Dengan gemetar ia mencoba bertahan. Ia ayunkan parang dengan gerakan
yang tak beraturan. Tapi sabetan parang itu hanya membelah-belah angin.
Jawad makin kalap. Parangnya makin berkelebat. Tapi, ia hanya mendapatkan
rasa lelah yang makin memuncak. Sosok-sosok itu makin mendesak, menggebrak,
dan melabrak. Jawad tak berdaya.
“Jangan bunuh saya. Jangan.”
Sosok-sosok itu makin mendekat. Jarak wajah mereka dengan wajah Jawad
tinggal beberapa inci.
“Saya bukan tukang jagal. Saya cuma sekrup. Cuma sekrup!” teriak Jawad
melengking, suaranya membentur dinding-dinding. Teriakan itu tak berjawab.
Seluruh ruangan tetap senyap.
“Saya memang telah menghinakan kalian, merampas hak hidup kalian. Tapi
kalian harus paham. Waktu itu yang ada hanya lawan dan kawan. Apakah itu
salah, Kawan?” Jawad tergagap.
Sosok-sosok itu mulai beringas, mereka menyerang Jawad. Ratusan tangan
mencekik leher Jawad. Jawad meronta.
“Maaf… maaf… jika kata-kataku menyinggung kalian. Aku hanya ingin
mengemukakan alasan. Dan maaf, aku telah bertindak seperti Tuhan atas
kematian kalian.” Jawad tertunduk. Ia merasakan keletihan yang sangat. Ia
tergeragap ketika kokok ayam mengabarkan pagi telah datang. Ia berjalan
sempoyongan. Merebahkan tubuh rentanya di ranjang.
Jalanan desa Tawang Abang lengang. Tak ada lagi laki-laki tua yang
berjalan terbungkuk-bungkuk diiringi derai batuk. Mbah Jagal dikabarkan
hilang sejak ia sering pidato tak karuan di jalan-jalan, mengungkap rasa
bersalahnya sebagai tukang jagal manusia. Ia juga sering menyebut beberapa
nama di balik aksi penjagalannya. Seorang saksi menemukan jasnya yang penuh
pangkat dan tongkatnya di dekat jembatan. Kepergian Mbah Jagal meninggalkan
sunyi yang panjang. Sangat panjang.
Yogyakarta, 2006

~ oleh Anti Capitalism pada Februari 12, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: