Materialisme Historis

by: Ernest Mandel

Ernest Mandel adalah seorang sarjana dan aktivis politik dari Belgia, yang banyak menulis tentang persoalan ekonomi-politik kapitalisme dan gerakan politik. Ia aktif dalam gerakan mahasiswa radikal yang melanda dunia di akhir tahun 1960-an. Tulisannya diterbitkan dalam berbagai bahasa, dalam jurnal-jurnal Internasional, seperti New Left Review, International Viewpoint, dan menjadi sumbangan yang berharga bagi perkembangan pemikiran ekonomi-politik di tingkat internasional. Karyanya yang terkemuka antara lain, Late Capitalism (Verso, 1987 – cetakan keempat), The Revolutionary Potential of the Working Class (Pathfinder Press, 1974), Marxist Economic Theory (Merlin Press, 1968).

Produksi dan Komunikasi Manusia

Manusia adalah binatang yang unik, baik karena kualitas fisiknya maupun karena kelemahan fisiknya. Di satu sisi, manusia memiliki postur tubuh yang berdiri tegak, dua buah tangan dengan sebuah jempol yang bebas dan fleksibel, mata menonjol yang dapat digunakan untuk melihat jauh dan tajam, lidah, tenggorokan dan pita suara yang memungkinkannya mengeluarkan berbagai bunyi-bunyian secara terpisah maupun secara terpadu. Dan manusia juga memiliki kulit otak yang sudah tinggi perkembangannya, cuping otak yang menonjol keluar dan belitan-belitan serebral, selubung batok kepala, dan permukaan wajah yang menyusut, yang memungkinkan ksemua perkembangan di dalam diri manusia. Semua kualitas fisik tersebut tak pelak lagi berguna bagi pembuatan alat-alat secara tekun dan hati-hati. Kualitas fisik ini secara progresif telah disempurnakan bersamaan dengan semakin sempurnanya alat-alat dan kerja produktif manusia.

Di sisi lain, sebagian besar pikiran dan organ-organ manusia kurang berkembang ketimbang pikiran dan organ spesies binatang lain yang sudah mengalami tingkat spesialisasi yang tinggi. Ketika manusia yang pada waktu itu masih dalam wujud manusia-kera dipaksa turun dari pohon, yang kemungkinan disebabkan oleh terjadinya perubahan iklim dan kemudian hidup dengan berbagai makanan di padang rumput, manusia primitif tersebut tidak dengan berlari seperti kijang, atau memanjat seperti simpanse, terbang jauh seperti burung atau bergantung pada kekuatan fisiknya seperti kerbau atau gorila. Dengan karakter fisik semacam itu, manusia primitf tak bisa bergantung lagi pada bahan-bahan makanan yang memikat hatinya begitu saja: seperti binatang pemamah biak yang tak terhitung banyaknya yang juga hidup di padang rumput. Lebih dari itu, dibandingkan dengan mahluk yang lain, manusia yang baru lahir pada dasarnya masih berupa janin di luar kandungan yang lemah dan tak mandiri, yang sepenuhnya tergantung pada ibu-ibu di sekumpulannya (posisi tegak berdiri, yang menyempitkan tulang pinggul perempuan, jelas telah membantu terbentuknya ciri prematur pada kelahiran manusia).

Kemungkinan organisasi sosial serta kebutuhan organisasi sosial berakar pada perpaduan antara kelebihan dan kekurangan tersebut. Manusia tidak dapat bertahan hidup atau bisa menjamin subsistensinya secara individual tanpa bekerjasama dengan anggota lain dalam spesiesnya. Organ-organ firiknya terlalu sedikit berkembang unutk membuat mereka bisa memperoleh bahan makanan secara langsung. Dengan bantuan alat, manusia harus memproduksi bahan makan itu secara kolektif untuk bisa mempertahankan dan menyempurnakan organ-organnya. Produksi tersebut dijamin melalui tindakan komunal oleh sekelompok manusia. Oleh karena itu, bayi manusia diintegrasikan ke dalam kelompok dan belajar tentang aturan-aturan dan teknik-teknik bertahan hidup sebagai anggota kelompok melalui teknik sosialisasi yang maju.

Organisasi sosial manusia dan sosialisasi bayi-bayi manusia menuntut adanya bentuk komunikasi di antara anggota-anggota kelompok yang secara kualitatif lebih unggul dari bentuk komunikasi di antara spesies binatang lainnya. Bentuk bahasa yang lebih unggul ini, yang berkaitan dengan perkembangan kulit otak, memungkinkan pertumbuhan kapasitas abstraksi dan belajar -yaitu, konservasi, transmisi dan akumulasi pelajaran-pelajaran dari pengalaman. Bentuk superior ini juga memungkinkan diproduksinya konsep-konsep, pikiran, dan kesadaran. Di sinilah, ciri-ciri kemanusiaan yang berbeda-beda tersebut -yang adalah ‘sifat antropologis’ kita-saling berkait satu sama lain. Jadi karena mereka adalah ‘kera telanjang yang berjalan dengan posisi berdiri tegak’, dan karena mereka adalah janin di luar kandungan saat mereka lahir, maka mereka harus mampu menjadi pembuat alat yang terencana. Manusia adalah binatang sosial yang mengembangkan bahasa, yang menyimpan kesan-kesan dan bayangan-bayangan berturut-turut, serta mampu menggunakan dan menyempurnakan diri untuk tujuan-tujuan praktis, belajar, mengantisipasi keadaan, berpikir, mengabstraksi, menggunakan imajinasi dan rekaan.

Interaksi, perpaduan dari ciri-ciri ini bersifat sangat menentukan. Ada primata seperti manusia yang menggunakan alat-alat dan bahkan kadang-kadang melampui tingkat perkembangan elementer mereka yang biasanya. Ada beberapa spesies yang bisa tahu bentuk-bentuk kerjasama kolektif secara instingtif. Dan masih ada banyak spesies, yang tampak punya bentuk komunikasi elementer. Tapi spesies manusia adalah satu-satunya yang secara progresfi membuat alat-alat dengan cara yang lebih terencana, menyempurnakanya setelah merekadapat memahaminya dengan sadar berdasarkan pengalaman berturut-turut, yang juga dialihkan ke pihak lain sebagai hasil dari semakin banyaknya dan semakin sempurnya komunikasi. Pada akhirnya, perkembangan alat-alat membebaskan mulut. Mulut menyempurnakan bahasa dan kemampuan abstraksi, yang pada gilirannya memungkinkan alat-alat diperbaiki dan alat-alat baru ditemukan. Tangan mengembangkan otak, yang dengan memperbaiki penggunaan otak bisa menciptaakan kondisi-kondisi bagi perbaikan otak itu sendiri.

Meskipun transformasi pirmata anthropoid menjadi manusia dikondisikan oleh keberadaan suatu infrastruktur anatomis dan neurologis, tetapi transformasi itu tidak bisa dipandang hanya dikarenakan infrastruktur ini saja. Dialektika ‘produksi/komunikasi’ menciptakan kemungkinan perkembangan yang tak terbatas dalam menghasilkan, menemukan, dan menyempurnakan alat-alat. Oleh karenanya dalam proses produksi, manusia menciptakan kemungkinan perkembangan tanpa batas dalam pengalaman hidupnya, belajar dan mengantisipasi dan karenanya memungkinkan kekenyalan dan adaptabilitas spesies manusia tanpa batas secara praktis. Wujud masyarakat manusia secara material dan kultural merupakan sifat kedua dari transformasi tersebut.

Dengan pemahaman ini, maka adalah absurd jika menyatakan bahwa setiap lembaga sosial (hilangnya ketidaksamaan sosial atau tiadanya negara, lenyapnya pemilikan pribadi) berarti ‘bertentangan dengan sifat manusia’. Manusia telah hidup dan dapat hidup dalam kondisi yang berbeda-beda. Tak satupun dari lembaga-lembaga ini terbukti merupakan suatu prakondisi absolut dan abadi bagi kelangsungan hidup manusia. Tiap penegasan yang menyatakan ‘instring agresif’ itu menentukan evolusi manusia telah mengacaukan antara kecenderungan itu sendiri (lebih jauh yang ada bersama-sama dengan engasinya sendiri -instring bergaul dan bekerjasama) dengan realisasi dari kecenderungan itu. Periode pra-sejarah dan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga dan kondisi sosial yang memungkinkan kita mengikuti dan mengendalikan kecenderungan tersebut. Tapi, bertentangan dengan ini, memang ada hal lain yang mendesak munculnya kecenderungan dalam bentuk yang tidak diharapkan.

Dialektika ‘produksi atau komunikasi’ menguasai seluruh kondisi hidup manusia. Segala sesuatu pada orang-orang dilakukan ‘dengan melewati kepalanya’. Produksi manusia itu berbeda dari cara binatang memperoleh makanan. Hal ini terutama karena kegiatan itu tidak merupakan kegiatan yang murni instingtif. Secara umum, kegiatannya merupakan realisasi sebuah ‘rencana’ yang pertama tumuh di kepala manusia. Tentu saja, ‘rencana’ ini bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Rencana itu adalah reproduksi atau pemaduan kembali otak oleh manusia, semua elemen dan masalah dalam kegiatan mereka itu yang memang tidak terhindarkan dalam kelangsungan hidup manusia, yang telah dialami dan diserap oleh otak beribu-ribu kali dalam pengalaman hidup. Tapi di sisi lain, kemampuan untuk memadukan kembali konsep-konsep yang pada akhirnya lahir dari praksis sosial memungkinkan kemanusiaan untuk menemukan, mengantisipasi, membayangkan perubahan-perubahan di alam dan masyarakat, yang sebelumnya belum pernah terjadi dan hanya hipotesis sifatnya atau paling tidak sebagian akan diwujudkan karena kegiatan antisipasi ini. Materialisme historis adalah ilmu masyarakat manusia yang pada dasarnya mencoba memperhatikan dan menerangkan dialektika produksi atau komunikasi ini.

Basis Sosial dan Superstruktur

Tiap masyarakat manusia harus menghasilkan supaya tetap hidup. Produksi subsistensi –dalam pengertian luas atau sempit dapat ditafsirkan sebagai sekedar pemuasan kebutuhan makan maupun pemuasan seluruh kebutuhan yang diakui secara sosial-dan pembuatan perangkat serta benda-benda kerja yang dibutuhkan untuk produksi ini merupakan kondisi awal bagi tiap organisasi atau aktivitas sosial yang lebih kompleks.

Materialisme historis menyatakan bahwa cara manusia mengorganisir produksi materialnya merupakan dasar dari seluruh organisasi sosial. Dasar ini pada gilirannya menentukan semua kegiatan sosial lainnya – pengaturan hubungan antara kelompok manusia (terutama muncul dan berkembangnya negara), pengaturan produksi spiritual, moral, hukum, agama, dsb. Apa yang umum disebut kegiatan superstruktur ini dalam satu atau lain cara, selalu tetap mengacu pada basis.

Gagasan ini telah menggemparkan dan masih menggemparkan banyak orang. Orang banyak bertanya-tanya, apakah puisi Homer, kitab Injil, Quran, prinsip hukum Romawi, drama Shakespeare, lukisan Michaelangelo, pernyataan hak asasi manusia, bahkan Manifesto Komunis itu sendiri yang merupakan produk usaha spiritual ini benar-benar didasarkan pada cara orang-orang masa kini mengolah lahan mereka dan menenun pakaian mereka? Untuk memahami prinsip materialisme historis ini justru kita harus mulai dengan menerangkan apa yang kita maksud dengan rumusan ‘materialisme historis’ itu.

Materialisme historis tidak lain menegaskan bahwa produksi maerial (‘faktor ekonomi’) secara langsung dan segera menentukan isi dan bentuk apa yang disebut sebagai kegiatan superstruktur. Lebih lagi, basis sosial tidak sekedar semacam aktivitas produksi, bahkan ‘produksi material’-nya tidak terisolasi. Yang dibentuk orang dalam produksi kehidupan material mereka adalah hubungan sosial. Sebenarnya materialisme historis bukan determinisme ekonomik tapi determinisme sosio-ekonomik.

Kegiatan-kegiatan di tingkat superstruktural tidak sesegera itu tumbuh dari hubungan sosial produksi. Hanya pada akhirnya saja mereka ditentukan oleh hubungan sosial produksi. Oleh karenanya serangkaian perantara ikut campur mengantarai dua tingkat kegiatan sosial itu. Ini yang akan kita uji secara singkat pada bagian tiga bab ini.

Sehingga, jika pada akhirnya basis sosial itu menentukan fenomena dan kegiatan di tingkat superstruktur, maka superstruktur ini dapat juga melakukan tindakan kembali pada basis. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diberikan satu gambaran. Negara pada dasarnya selalu memiliki watak kelas yang tepat dan berhubungan dengan basis sosio-ekonomi tertentu. Tapi, untuk sebagian, negara bisa memodifikasi basis itu. Jika selama beberapa abad untuk menyelamatkan kebangsawanan feodal dari kehancuran ekonomik tertentu dilakukan suatu cara dengan mengeruk pajak dari kelas-kelas sosial lain, maka itu berarti negara monarki absolut (dari abad ke-16 sampai abad ke-18 di Eropa) dengan penuh kuasa telah membantu digantikannya mode produksi feodal dengan mode produksi kapitalis dengan cara mengembangkan merkantilisme, kolonialisme, mendorong manufaktur, sistem moneter nasional, dan lain-lain.

Ada beberapa alasan mengapa kegiatan-kegiatan di tingkat superstruktur pada akhirnya ditentukan oleh basis sosialnya. Mereka yang mengontrol produksi material dan produksi surplus sosial juga menjamin keberlangsungan mereka yang hidup dari produk surplus sosial. Apakah ideolog, seniman, dan ilmuwan itu menerima atau menolak ketergantungan tersebut, tetapi produksi surplus masih menentukan kerangka kegiatan mereka. Hubungan sosial produksi karenanya mengandung konsekuensi-konsekuensi yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kegiatan di lingkaran superstruktural, yang juga merupakan suatu pengkondisian. Hubungan produksi dipersatukan oleh bentuk-bentuk komunikasi yang dominan di masing-masing masyarakat, yang mendorong tampilnya struktur mental dominan yang mengkondisikan bentuk-bentuk berpikir dan penciptaan artistik.

Produksi Material dan Produksi Pikiran

Proses dialektika basis sosial/superstruktur sosial mempengaruhi pula hubungan produksi material dan produksi pikiran. Suatu studi yang lebih rinci mengenai hubungan tersebut akan memungkinkan kita memahami lebih baik kompleksitas dari dialektika ini dan juga memungkinkan kita menegaskan pentingnya elemen aktif dari proses dialektika tersebut.

Materialisme historis menyatakan bahwa hubungan produksi merupakan basis dari seluruh kehidupan di dalam masyarakat, yang darinya berdirilah superstruktur. Sebenarnya, dua tingkat ini mempermasalahkan dua bentuk aktivitas sosial yang berbeda. Produksi material adalah obyek fundamental aktivitas di tingkat basis sosial. Produksi ideologis (filsafat, agama, peradilan, politik, dsb) adalah obyek fundamental aktivitas di tingkat superstruktur sosial. Sudah barang tentu, kegiatan yang terakhir ini juga meliputi kegiatan aparatur negara, yang kegiatannya terlalu kompleks untuk sekedar ditempatkan di dalam wilayah ideologis. Tapi, dengan satu pengecualian di atas, perbedaan yang telah kita buat tampaknya berkaitan satu sama lain.

Materialisme historis menyodorkan suatu penjelasan mengenai evolusi masing-masing lingkaran kegiatan ini, yaitu tentang saling ketergantungan dan hubungan timbal-balik di dalamnya. Penjelasan ini dapat kita uraikan dalam empat tingkatan:

  1. Semua produksi pikiran dalam satu atau lain cara berkait dengan proses kerja material. Proses produksi ini selalu beroperasi serentak bersama infrastruktur materialnya itu sendiri. Beberapa hasil seni pada awal adalah hasil langsung kerja material (fungsi magis dari lukisan primitif; asal-muasal tarian yang merupakan formalisasi gerak berproduksi; masuknya lagu-lagu ke dalam kegiatan produksi; dsb.) Revolusi teknologi secara mendalam mempengaruhi produksi ideologis, ilmu geometri, astronomi, hidrografi, biologi dan kimia berkembang dalam hubungan yang erat dengan irigasi di pertanian, pengembangan pemeliharaan ternak, dan perkembangan metalurgi. Sesudah penemuan teknik percetakan di abad ke-15 dan radio serta televisi di abad ke-20, teknik-teknik ini secara mendalam telah mengkondisikan kembali tidak hanya penyebaran gagasan belaka tapi lebih jauh adalah bentuk-bentuk gagasan itu sendiri, berikut beberapa hal yang terkandung dalam gagasan itu. Pengaruh komputer elektronik dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam waktu 30 tahun ini adalah fakta yang paling jelas.
  2. Semua produksi pikiran bergerak maju mengikuti sebuah dialektika internal yang sesuai dengan proses sejarahnya sendiri. Setiap filsuf, pengacara, pendeta atau ilmuwan mulai sebagai seorang murid. Melalui kegiatan studi, mereka menggunakan berbagai tingkat konsep-konsep (atau sistem konsep-konsep) yang diproduksi oleh generasi sebelumnya dan diwariskan ke generasi-generasi sebelumnya dan diwariskan ke generasi berikutnya. Para penghasil pikiran memperlakukan dengan hati-hati, mengubah di sana-sini, menyesuaikan atau merombak konsep-konsep atau hipotesis dari suatu kerja, sesuai dengan prosedur produksi yang mereka ambil atau mereka temukan dalam kerangka dialektik yang sesuai dengan kegiatan mereka. Tiap generasi baru selalu menolak jawaban atas persoalan yang muncul dari subyek yang menjadi bidang perhatian mereka. Kadang-kadang mereka menemukan persoalan baru (yang kemudian menuntut suatu jawaban ‘revolusioner’: revolusi yang filosofis, artistik, ilmiah, dsb.) atau mengemukakan kembali persoalan yang sudah dibuang oleh generasi sebelumnya.
  3. Tapi perubahan-perubahan dalam memperlakukan konsep, bentuk-bentuk keindahan, hipotesa ilmiah, tidak terjadi dengan cara yang serampangan, apapun kondisi sosio-historisnya. Perubahan itu didorong, dikondisikan atau yang paling akhir dimajukan oleh kebutuhan dan konteks sosio-ekonomik. Evolusi dari animisme ke monoteisme tidak terjadi di suatu komunitas primitif kecil yang kegiatan produksinya terbatas pada berburu dan mengumpulkan bahan makanan. Teori ilmiah tentang nilai kerja tidak bisa disempurnakan sebelum munculnya kapitalisme modern. Perkembangan fisika mekanik erat berkait dengan perkembangan mesin-mesin, yang kemudian berkait dengan kebutuhan sosial yang khusus, dsb.

    Transformasi besar dalam produksi pikiran ini juga berkaitan dengan struktur mental khusus yang telah ditentukan oleh struktur sosialnya. Jadi bukan karena kebetulan maka semua usaha besar revolusi sosial dan politik di abad ke-13 sampai ke-17 diekspresikan dalam bentuk ideologis perjuangan agama, yang membuat agama mencapai tempat utama dalam superstruktur masyarakat feodal. Dengan cara yang sama, sejak pertengahan kedua abad ke-16 dan selanjutnya, bangkitnya borjuis modern menciptakan struktur mental yang menempatkan otonomi individual, persamaan kedudukan secara resmi dan persaingan pemilikan pribadi komoditi ke dalam semua wilayah produksi pikiran (teori hak-hak alamiah, konsep pendidikan humanis, filsafat idealis Jerman, cetak gambar dan lukisan sesuatu yang masih hidup, liberalisme politik, ekonomi politik klasik, dsb.)

  4. Evolusi produksi spiritual itu akhirnya ditentukan oleh pertikaian antara kepentingan-kepentingan sosial. Sudah menjadi fakta umum dikenal bahwa karya-karya ensiklopedis, polemik-polemik Voltaire, filsafat Jean-Jacques Rousseau dan karya-karya kaum materialis abad ke-18 telah menjadi senjata bagi borjuis manufaktur yang tengah tumbuh untuk digunakan melawan monarkhi absolut yang dekaden dan sisa-sisa masyarakat feodal yang sudah usang. Fungsi yang dimainkan oleh sosialis yang biasa disebut sosialis utopia, dan oleh Marx dan Engels, dalam mengembangkan kesadaran proletariat yang berasal dari sifat kelasnya, dari posisinya dan tugas-tugasnya dalam hubungannya dengan masyarakat borjuis, dan kepentingannya untuk melenyapkan masyarakat borjuis, adalah juga faktanya. Bahkan saat ini, orang tidak dapat ragu lagi pada fungsi astrologi, agama-agama tertentu dan sekte-sekte mistik, filsafat yang memuja ketidak-rasionalan, doktrin-doktrin rasialis, atau paham ‘darah dan tanah’ dan memandang hina pada humanitas sebagai bentuk anti kelas pekerja dan pengacauan kontra-revolusi yang menguntungkan bagi kelahiran iklim pra-fasis.

Pernyataan tersebut di atas tidak mengakibatkan munculnya gagasan tentang adanya ‘persekongkolan terorganisir’ antara kelas-kelas sosial yang berbeda dengan para penghasil pikiran secara individual, atau gagasan tentang adanya keterlibatan terencana sebagian penghasil pikiran ini yang menyusun proyek-proyek politik dengan gamblang. Kesemua itu merefleksikan suatu korelasi obyektif yang dapat, dan kadang-kadang secara subyektif dianggap, ada hubungan langsung meskipun ini tidak harus kasuistik. Penghasil pikiran dapat menjadi alat kekuatan sosial tanpa disadarinya. Keadaan hanya menegaskan bahwa eksistensi sosial lah yang menentukan kesadaran, dan bahwa kepentingan kelas yang ada itulah yang menugaskan fungsi-fungsi tertentu dari ideologi tertentu dalam struktur dan evolusi tiap masyarakat.

Kekuatan Produktif, Hubungan Sosial Produksi dan Mode Produksi

Tiap manusia-pembuat produk adalah hasil perpaduan tiga elemen: obyek kerja, langsung atau tidak langsung yaitu bahan mentah yang dihasilkan alam; instrumen kerja, yaitu alat produksi yang diciptakan manusia apapun tingkat perkembangannya (dari penggunaan tongkat kayu pertama dan batu yang diasah sampai mesin-mesin otomatis yang paling canggih saat ini); subyek kerja -yaitu produsen. Karena dalam pengulasan terakhir kerja selalu bersifat sosial, maka subyek kerja secara tak terelakkan termasuk ke dalam hubungan sosial produksi.

Tapi meski obyek kerja dan instrumen kerja adalah elemen-elemen yang tak terhindarkan di semua produksi, hubungan sosial produksi tidak dapat dipahami dalam bentuknya yang ‘nyata’ -hubungan ini tidak seharusnya dilihat sebagai hubungan antara benda-benda, atau antara orang dengan benda. Hubungan sosial produksi mempersoalkan hubungan di antara orang-orang, dan hanya hubungan antar orang. Hubungan sosial produksi menyeret keseluruhan hubungan yang dibangun orang di antara mereka sendiri dalam produksi kehidupan material mereka. ‘Keseluruhan hubungan’ tidak hanya berarti hubungan ‘menjelang produksi’, tapi juga hubungan yang ada dalam sirkulasi dan pembagian berbagai elemen produk sosial yang tak terhindarkan berkait dengan produksi material (khususnya cara dimana obyek kerja dan instrumen kerja langsung sampai di tangan produsen , cara dimana para produsen itu mengatasi subsistensinya, dsb.)

Secara umum, hubungan produksi yang ada berkait pada tingkat perkembangan kekuatan produktif yang ada, pada pencanggihan (jumlah) alat produksi yang ada. Di zaman alat-alat batu yang paling sederhana, maka sukar sekali mempertahankan komunisme primitif dari suatu kumpulan atau suku. Pertanian berbasis irigasi dengan bantuan alat-alat besi telah menciptakan surplus produksi luar biasa dan permanen yang memungkinkan tumbuhnya masyarakat berkelas (masyarakat perbudakan, masyarakat yang didasarkan pada mode produksi asiatik, dsb.). Pertanian didasarkan pada rotasi tanaman tiga tahun sekali, pada akhirnya menciptakan fondasi material masyarakat feodal. Lahirnya mesin uap dengan pasti menjamin bangkitnya kapitalisme industrial modern. Sukar membayangkan terjadinya otomatisasi yang meluas tanpa mengenyahkan produksi komoditi dan ekonomi uang di luar bentuk masyarakat sosialis yang mantap dan berkembang penuh.

Tapi kalau ada keterkaitan umum antara tingkat perkembangan kekuatan produktif dan hubungan sosial produksi, maka sifat kaitan ini tidak absolut maupun permanen. Ketidaksesuaian ganda antara mereka bisa terjadi. Hubungan produksi yang ada bisa menjadi penghalang bagi pertumbuhan lebih lanjut kekuatan produksi: ini adalah pertanda paling gamblang bahwa bentuk sosial yang ada terpaksa lenyap. Di sisi lain, hubungan produksi baru yang muncul sebagai hasil kemenangan revolusi sosial dapat memajukan tingkat perkembangan kekuatan produktif yang telah dicapai di negara tersebut. Ini adalah kasus kemenangan revolusi borjuis di Belanda abad ke-16 dan kemenangan revolusi sosialis di Rusia bulan Oktober 1917.

Bukanlah kebetulan karena ada peluang jika dua kasus ketidaksesuaian yang prinsipal itu memiliki pengaruh lanjutan pada periode historis kebangkitan sosialis yang mendalam: periode revolusi sosial. Lebih jauh lagi, ketidaksesuaian dapat juga mengakibatkan kemerosotan terus-menerus kerajaan Romawi di Barat dan merosotnya kalifah-kalifah dari Timur Tengah.

Daripada melihat saling keterkaitan mereka dalam suatu hubungan mekanik, maka dalam banyak hal dialektika antara kekuatan produktif dan hubungan sosial produksi lebih menentukan pergantian zaman-zaman besar dalam sejarah manusia. Tiap perkembangan mode produksi selalu melalui fase-fase berturutan, kelahiran, pertumbuhan, pematangan, kemerosotan, kejatuhan dan lenyapnya. Dalam mengulas akhirnya fase-fase ini tergantung pada cara bagaimana hubungan produksi, yang awalnya baru, kemudian mengkonsolidasi, kemudian dalam suatu krisis, secara progresif menguntungkan, memungkinkan atau menghalangi pertumbuhan kekuatan produktif. Artikulasi antara dialektika ini dan perjuangan kelas didasarkan pada fakta sejarah. Hanya melalui aksi sebuah atau beberapa kelas sosial maka seperangkat hubungan produksi yang ada bisa diperkenalkan, diubah atau dibuang.

Tiap formasi sosial, yaitu tiap masyarakat di dalam sebuah negara, dalam suatu zaman, selalu dicirikan oleh totalitas hubungan produksi. Sebuah formasi sosial tanpa hubungan produksi dapat menjadi sebuah negara tanpa pekerja, produksi atau subsistensi – yaitu negara tanpa penduduk. Tapi tiap totalitas hubungan sosial produksi tidak segera mengakibatkan tampilnya keberadaan mode produksi yang stabil atau homogennya hubungan sosial produksi ini.

Mode produksi yang stabil adalah totalitas hubungan produksi yang direproduksi kurang lebih secara otomatis oleh berfungsinya ekonomi secara aktual, oleh pola normal reproduksi kekuatan produksi, bersama suatu peran faktor-faktor tertentu yang saling terkait (kurang lebih penting) dari superstruktur sosial. Ini adalah kasus yang berabad-abad terjadi di banyak negara dengan mode produksi asiatik, perbudakan, feodal dan kapitalis. Ini adalah kasus yang beribu-ribu tahun terjadi pada mode produksi komunis kesukuan. Artinya, sebuah mode produksi adalah strukutr yang tidak dapat secara fundamental diubah oleh evolusi, penyesuaian, atau reformasi itu sendiri. Logika internalnya hanya dapat dilampaui jika mode produksi itu dienyahkan.

Sebaliknya, dalam periode pergolakan sosial historis yang dalam, seseorang bisa mengalami sejumlah total hubungan produksi yang tidak memiliki sifat mode produksi yang mantap. Contohnya, zaman ketika produksi komoditi kecil berkuasa (abad ke-15 dan ke-16 di negara daerah rendah (Belanda, Belgia), Italia Utara dan kemudian di Inggris. Saat itu hubungan yang tampak bukanlah antara tuan tanah dan hamba-hamba, tidak juga antara kapitalis dan produsen pencari upah, tetapi antara produsen-produsen bebas yang punya jangkauan langsung pada alat produksi mereka. Keadaan ini sama ciri-cirinya dengan hubungan produksi negara pekerja terbirokratisasi saat ini. Baik dalam sebuah kasus maupun lain kasus, tak seorang pun bisa menunjukkan keberadaan sebuah mode produksi yang mantap. Di semua masyarakat dalam fase tradisional ini, hubungan sosial produksi yang bercampur-baur ini bukan suatu struktur yang bisa mereproduksi dirinya sendiri kurang lebih secara otomatis. Hubungan sosial ini bisa mengakibatkan terbangunnya kembali masyarakat lama maupun munculnya mode produksi yang baru. Pilihan-pilihan yang bersifat historis ini dibangun oleh sejumlah faktor, terutama oleh faktor memadai atau tidaknya pertumbuhan kekuatan produksi, merupakan hasil dari perjuangan kelas di suatu negeri dan di tingkat internasional, faktor permainan elemen superstruktural dan subyektif (peran negara, partai, tingkat kesiapan berperang dan kesadaran kelas revolusioner, dsb.)

Di sisi lain, bahkan ketika mode produksi yang sudah stabil itu ada, hubungan produksinya tidak serta-merta homogen. Bahkan, hal ini hampir tidak pernah terjadi. Dalam tiap formasi sosial konkrit, selalu ada perpaduan antara hubungan produksi dominan dari mode produksi yang berlaku dengan sisa-sisa hubungan produksi sebelumnya yang tidak seluruhnya terserap dan secara historis telah bertahan sejak dulu kala. Misalnya, secara praktis, semua negara imperialis masih mengandung sisa-sisa produksi komoditi kecil dalam pertaniannya (petani pemilik kecil, yang bekerja tanpa kerja mencari upah) dan bahkan sisa-sisa hubungan produksi semi-feodal (bagi hasil). Dalam kasus tersebut mode produksi yang mantap hanya akan benar kalau dominannya ciri-ciri hubungan produksi dari mode produksi sedemikian rupa sehingga bisa menjamin reproduksinya secara otomatis dan dominasinya atas seluruh kehidupan ekonomi melalui logika internal dan hukum perkembangan mereka.

Contoh ciri-ciri hubungan produksi yang bercampur-baur tapi didominasi oleh satu mode produksi yang hegemonik adalah pada ap yang umu disebut sebagai formasi sosial ‘dunia ketiga’. Di sini hubungan produksi pra-kapitalis, semi-kapitalis dan kapitalis saling berdampingan, berpadu dalam satu cara tertentu berada di bawah tekanan struktur imperialis ekonomi internasional. Di samping mendominasinya modal, dan di samping peleburan ke dalam sistem imperialis, hubungan produksi kapitalis (terutama hubungan ‘upah kerja-kapital’) tidak menjadi sesuatu yang umum, meskipun hubungan produksi itu ada dan secara perlahan memperluas diri. Tapi fakta ini tidak membenarkan usaha memberi ciri pada formasi sosial ini sebagai ‘negara feodal’, maupun memasukkan pengertian bahwa hubungan produksi feodal atau semi-feodal mendominasi di dalamnya.

Determinisme Historis dan Praktik Revolusioner

Materialisme historis adalah sebuah doktrin yang determinis. Tesis fundamental doktrin ini menegaskan bahwa keberadaan sosial-lah yang menentukan kesadaran sosial. Sejarah masyarakat manusia itu bisa dijelaskan. Gerak sejarahnya tidak terjadi secara acak atau serba kebetulan. Terbentangnya sejarah masyarakat manusia tidak tergantung apda kehendak gerak genetik yang tak dapat diramalkan sebelumnya atau pada kehendak ‘manusia mulia’ di tengah kaum awam yang tercerai-berai. Dalam mengulasnya akhirnya sejarah masyarakat manusia dijelaskan oleh struktur fundamental masyarakat di masing-masing zaman dan oleh kontradiksi mendasar dari struktur tersebut. Sebab sepanjang masyarakat dibagi ke dalam kelas-kelas, maka sejarah masyarakat dijelaskan oleh perjuangan kelas.

Meskipun materialisme historis itu adalah sebuah doktrin yang determinis, tapi ini berlaku dalam pengertian yang dialektis dan tidak mekanistik. Marxisme mengeluarkan unsur fatalisme. Lebih tepatnya: tiap usaha mengubah Marxisme menjadi fatalisme otomatis atau evolusionisme vulgas berarti mengesampingkan dimensi fundamental dari materialisme historis.

Sudah barang tentu pilihan-pilihan manusia itu ditentukan sebelumnya oleh batasan material dan sosial di mana ia tak dapat lari darinya. Tapi tetap dalam kerangka batasan tersebut manusia masih dapat mendesakkan nasibnya sendiri. Manusia membuat sejarahnya sendiri. Jika manusia adalah produk dari kondisi material yang ada, maka kondisi material ini pada gilirannya adalah produk dari praktek sosial manusia.

Dilampauinya idealisme historis kuno (bahwa ‘gagasan, atau manusia mulia adalah yang membuat sejarah’) dan materialisme mekanis kuno (bahwa ‘orang adalah produk lingkungan’) ada dalam satu jalan kelahiran Marxisme. Ini dimasukkan dalam ‘Tesis Terhadap Feuerbach’ yang terkenal itu di dalam Ideologi Jerman oleh Marx dan Engels.

Pada lain hal, ini berarti bahwa hasil ledakan sosial dari tiap zaman besar dalam sejarah tetap tidak pasti. Ledakan itu bisa mengakibatkan kemenangan kelas revolusioner, tapi ledakan itu dapat pula mengakibatkan terjadinya pembusukan timbal-balik semua kelas fundamental dalam masyarakat, seperti kasus berakhirnya mode produksi kuno berbasis pada perbudakan. Sejarah bukanlah sejumlah total gerak maju yang linier. Banyak formasi sosial masa lalu yang telah hilang tanpa meninggalkan banyak jejak, terutama karena tiadanya atau lemahnya kelas revolusioner yang mampu mendesakkan suatu jalan untuk maju.

Fakta kemerosotan kapitalisme kontemporer tidak secara otomatis mengakibatkan kemenangan sosialisme. Kemerosotan itu bisa mengakibatkan munculnya ‘sosialisme’ atau ‘barbarisme’ dalam bentuk lain. Sosialisme adalah keharusan sejarah yang memungkinkan suatu kebangkitan baru dalam kekuatan produksi yang konsisten dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer. Terutama dalam hal kebutuhan manusia, sosialisme akan membuka kemungkinan terpenuhinya kebutuhan, dengan kondisi yang menjamin mekarnya seluruh potensi manusia di tiap individu dan semua orang, tanpa menggoncang keseimbangan ekologis. Tapi apa yang dibutuhkan tidak berarti sama dengan apa yang dicapai. Hanya tindakan yang sadar dan revolusioner dari proletariat yang dapat menjamin kemenangan sosialisme. Sedangkan potensi produktif yang begitu besar dari teknologi dan ilmu pengetahuan kontemporer akan mulai menggunakan suatu bentuk kemajuan yang lebih destruktif terhadap peradaban, kebudayaan, kemanusiaan, alam, dan sederhananya, kehidupan di planet kita.

Jadi praktik sosial manusia menciptakan struktur sosial yang selanjutnya menyelubungi praktik sosial itu sendiri. Melalui praktik sosial revolusioner, maka struktur yang itu juga dapat dilenyapkan. Marxisme itu determinis karena Marxisme menegaskan bahwa kebangkitan ini hanya bisa mengambil bentuk tertentu dan dalam zaman tertentu. Tidak mungkin untuk memperkenalkan kembali feodalisme atau komunisme dari komunitas autarkis kecil produsen-konsumen, pada basis kekuatan produktif kontemporer. Marxisme determinis karena Marxisme menegaskan bahwa revolusi sosial yang progresif hanya mungkin jika prakondisi material dan kekuatan sosial yang memungkinkan penciptaan organisasi sosial yang lebih superior itu telah matang dalam masyarakat yang tua.

Namun Marxisme tidak fatalistik, karena jelas Marxisme mempostulatkan bahwa datangnya masyarakat baru ini adalah produk tak terhindarkan dari matangnya kondisi sosial dan material yang memang dibutuhkan bagi kemunculan masyarakat tersebut. Datangnya masyarakat ini hanya dapat terjadi akibat hasil perjuangan di antara kekuatan sosial yang hidup. Dalam mengulasnya, pada akhirnya masyarakat ini merupakan akibat dari tingkat keefektifan sosial dari aksi revolusioner. Pada gilirannya, jika ini sebagian dikondisikan oleh lingkungan sosial dan keseimbangan kekuatan-kekuatan, maka aksi revolusioner dapat membalik, memcah atau mempercepat evolusi lingkungan dan keseimbangan kekuatan ini. Bahkan keseimbangan kekuatan yang nyata menguntungkan ini dapat dirusak oleh kelemahan subyektif di sisi kelas revolusionernya. Artinya, di zaman revolusi dan kontra revolusi kita ini, ‘faktor subyektif sejarah’ (kesadaran kelas dan kepemimpinan revolusioner proletariat) memainkan peran utama dalam menentukan hasil pertarungan besar kelas-kelas, dalam menentukan masa depan spesies manusia.

Keterasingan dan Pembebasan

Selama beribu tahun manusia hidup dalam ketergantungan kuat pada kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya. Manusia hanya dapat mencoba menyesuaikan diri pada lingkungan pergaulan yang ada secara alamiah. Masing-masing kelompok kecil manusia menyesuaikan diri pada kelompoknya sendiri. Manusia adalah yang terpenjara dalam suatu horison yang sempit dan terbatas, meskipun beberapa masyarakat primitf dapat mengembangkan potensi tertentu yang dimiliki oleh manusia dalam cara yang luar biasa (misalnya, lukisan paleolitik).

Dalam perkembangan kekuatan produksi yang bertahap, sedikit demi sedikit manusia mengatur dirinya untuk membalik hubungan ketergantungan absolut itu. Manusia makin lama makin berhasil menundukkan kekuatan alam, mengendalikannya, menjinakkannya, menggunakannya secara sadar untuk meningkatkan produksi, membuat variasi kebutuhan, mengembangkan potensi manusia dan memperluas hubungan sosial sehingga akhirnya merangkul dan mempersatukan sebagian manusia di tingkat dunia.

Tapi makin banyak orang membebaskan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan kekuatan alam, mereka makin mengasingkan diri dalam hubungannya dengan organisasi sosialnya sendiri. Ketika kekuatan produksi tumbuh, ketika produksi material mengalami kemajuan, ketika hubungan produksi menjadi hubungan dari suatu masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas, massa manusia tak lagi mengendalikan keseluruhan produksinya atau keseluruhan aktivitas produktifnya. Karenanya ia tak lagi mengontrol keberadaan sosialnya sendiri. Dalam masyarakat kapitalis, kehilangan kendali semacam ini menjadi sepenuhnya. Setelah bebas dari penaklukan oleh kehendak alam, manusia kelihatan ditakdirkan untuk menjadi sasaran kehendak organisasi sosialnya sendiri. Bebas dari akibat banjir, gempa bumi, epidemi dan kekeringan, yang tak tertanggulangi, manusia kelihatan dikutuk untuk menerima akibat perang dan krisis ekonomi, kediktatoran berdarah, dan penghancuran kekuatan produksi secara kriminal, bahkan kemungkinan perusakan oleh nuklir. Ketakutan akan perubahan besar tersebut saat ini telah menumbuhkan kecemasan lebih besar daripada ketakutan akan kelaparan, sakit atau kematian seperti sebelumnya.

Tapi, perkembangan kekuatan produksi yang sama mengesankannya juga terjaadi. Perkembangan kekuatan produksi yang mendorong keterasingan manusia sampai ke perbatasan dalam hubungannya dengan produksi dan masyarakat sendiri, di bawah kapitalisme juga menciptakan kemungkinan melakukan pembebasan manusia yang senyatanya, sebagaimana sudah kita tunjukkan sebelumnya. Kemungkinan ini harus dipahami dalam dua pengertian. Pertama, manusia akan lebih dan lebih lagi mampu mengembangkan secara penuh semua potensi perkembangan individual dan sosial, yang sebelumnya telah dicekik atau dirusak oleh ketidakmampuan mengendalikan kekuatan alam, organisasi sosial dan nasib sosialnya sendiri.

Pembangunan masyarakat tanpa kelas, dan kemudian menjadi masyarakat komunis, mengakibatkan terbebasnya buruh, terbebasnya manusia sebagai produsen. Pekerja menjadi penguasa atas produk-produk dan proses kerjanya sendiri. Mereka bebas memilih hal mana yang harus didahulukan dalam pembagian produk sosial. Mereka memutuskan secara kolektif dan demokratis aturan-aturan sehingga berbagai kebutuhan bisa dipenuhi, memutuskan prioritas produktif, pengorbanan waktu sengang dan konsumsi untuk masa sekarang, yang mana alokasi sumber-sumber akan memenuhinya.

Sudah tentu, pilihan-pilihan ini akan terus dibuat dalam kerangka pembatas tertentu. Tak ada masyarakat manusia dapat mengkonsumsi lebih dari yang diproduksinya tanpa mengurangi cadangan konsumsinya dan sumber produksinya serta memaksa diri mengurangi konsumsi masa sekarang untuk waktu kemudian, ketika kekurangan cadangan dan sumber produksi telah mencapai ambang pintu. Artinya, rumusan Frederick Engels yang menyatakan bahwa kebebasan adalah pengakuan atas kebutuhan tetap berlaku bahkan bagi manusia komunis. ‘Mengendalikan kebutuhan’ akan lebih tepat daripada ‘pengakuan kebutuhan’, ketika kontrol manusia atas kondisi kehidupan alam dan sosial itu tumbuh, ketika jumlah tanggapan yang mungkin terhadap kondisi terbatas itu tumbuh, dan makin banyak manusia dapat membebaskan dirinya dari keharusan untuk memakai hanya satu jawaban permasalahan.

Tapi ada dimensi kedua dalam hal tidak terasingnya manusia, yang memperbesar lingkaran kemerdekaan manusia secara luar biasa. Ketika semua kebutuhan dasar semua orang dipuaskan, ketika reproduksi dari keberlimpahan ini terjamin, maka usaha memecahkan masalah material berhenti menjadi prioritas bagi manusia. Manusia membebaskan dirinya dari pembudakan pada kerja mekanistik dan tidak kreatif. Manusia membebaskan dirinya dari perhitungan-perhitungan tentang bagaimana ia menggunakan waktu dengan hemat dan dari keharusan mencurahkan waktu tersebut terutama untuk produksi material. Perkembangan aktivitas kreatif, perkembangan individualitas manusia yang kaya, perkembangan hubungan manusia yang lebih luas lagi, semua ini menjadi prioritas mengambil alih tempat akumulasi konstan barang-barang material yang semakin tidak berguna.

Oleh karena itu, praktik sosial revolusioner tidak hanya akan membuang hubungan produksi. Praktik itu bisa mengubah semua organisasi sosial, semua kebiasaan, mental dan psikologi manusia yang tradisional. Egoisme material dan semangat persaingan yang agresif akan melenyap karena tak adanya suntikan untuk itu dalam pengalaman sehari-hari.

Manusia akan menguasai lingkungan geografis sekelilingnya, konfigurasi globe, iklim dan distribusi cadangan air, yang pada saat bersamaan menjaga dan membangun kembali keseimbangan ekologis. Manusia akan mengembalikan segala sesuatunya pada dasar biologisnya sendiri. Manusia tidak dapat mencapai segala tuntutan ini dengan cara yang mutlak sukarela, mandiri dari segala persyaratan dan infrastruktur material yang memadai. Tetapi sekali infrastruktur ini terjamin, maka manusia aktif, dengan lebih bebas menentukan pilihan yang akan menjadi pembangkit prinsipil bagi usaha menciptakan orang yang baru, bebas, dan tak terasing.***


~ oleh Anti Capitalism pada Februari 1, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: