Epistemologi Marx

Epistemologi Marx merupakan bagian tak terpisahkan dari doktrinnya tentang Alam dan Esensi. Konsep Marx tentang esensi, dalam hal-hal tertentu, mirip dengan konsep Aristoteles. Bagi Aristoteles, esensi sesuatu adalah bentuk (form), dan ini secara teoritis kemudian menjadi pegangan dalam mendefinisikan benda-benda. Lebih dari itu, bagi Aristoteles, benda (thing) sesung-guhnya dapat dikatakan menjadi apa adanya ketika ia mencapai pemenuhan bentuknya, daripada ketika ia masih berada secara potensial. Essensi dari suatu benda ditunjukkan dalam proses perkembangan yang bersamanya bentuk atau esensi itu dicapai. Namun, bagi Aristoteles, bentuk atau finalitas dari suatu benda adalah tetap dan tak berubah, berbeda dengan Marx dimana esensi berubah dan berkembang melalui sejarah.

Marx menyebutkan bahwa kebutuhan (need) yang sebenarnya menghubungkan esensi dan eksistensi. Kebutuhan menunjukkan kehar-usan bagi esensi untuk melengkapi aktualisasinya dalam eksisten-si. Esensi manusia melibatkan sebuah hubungan yang terkait antara alam dan kesadaran. Alam adalah obyek dari teori (sebagai contoh ilmu alam, seni, dll), dan dari praxis (contohnya, materi dan alat yang mentransformasi alam lewat kerja untuk memuaskan kebutuhan).

Dengan demikian kita dapat mengerti pemahaman Marx tentang hubungan teori dan praxis. “Praxis” diartikan Marx sebagai ak-tivitas praktis yang mentransformasi obyeknya atau dunia dalam rangka menyatakan esensinya. Kerja dan aksi revolusioner adalah contoh yang baik dari praxis. Sedangkan “teori” yang dimaksudkan Marx adalah aktivitas pikiran atau kesadaran. Contoh yang baik untuk hal ini adalah kritisisme, ilmu, atau filsafat.

Keberadaan dan Kesadaran

Tentang kesadaran, dalam German Ideology, Marx menjelaskan hubungan antara kesadaran dan kebutuhan itu bersifat historis. Menurut Marx: “… dari hubungan historis yang asali, kita menemukan bahwamanusia juga memiliki “kesadaran.” Sekalipun begitu ini bukanlah kesadaran “murni”, asali. Dari permulaan, “jiwa” merana dengan “beban” materi, yang muncul dalam kasus ini dalam bentuk lapisan-lapisan yang bergerak-gerak di udara, suara, singkatnya bahasa. Bahasa itu sama tuanya dengan kesadaran, bahasa ialah kesadaran yang praktis, sebagaimana ia ada untuk manusia lain, dan karena itu sebagaimana ia ada pertama-tama untuk saya sendiri. Bahasa, sebagaimana kesadaran, hanya berasal dari kebutuhan, keperluan berhubungan dengan manusia lain. Ketika ada hubungan, hubungan itu ada untuk saya; binatang tidak punya “hubungan” dengan apa-pun, tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bagi binatang, hubun-gannya dengan yang lain tidak ada sebagai suatu hubungan. Kesa-daran, karena itu, sejak awal mulanya sekali adalah produk so-sial, dan tetap demikian selama manusia ada. Tentu saja, kesadar-an pertama-tama hanyalah kesadaran tentang lingkungan dekatyang bisa diindera dan kesadaran tentang kaitan terbatas dengan orang lain dan hal-ihwal di luar individu yang menjadi sadar-diri. Pada saat yang sama, itu adalah kesadaran tentang Alam, yang bagi manusia pertama-tama tampak asing sama sekali, berkuasa, dan sebagai kekuatan yang tidak bisa diserang, dengan apa hubungan manusia bersifat murni binatang dan dengan apa mereka diambil-alih oleh binatang buas; karena itu ini adalah kesadaran murni binatang tentang Alam (agama alamiah)”.

Menurut Marx, pada saat yang sama jelas bahwa agama alamiah ini, atau perilaku tertentu terhadap Alam, dikondisikan oleh bentuk-bentuk masyarakat dan sebaliknya. Di sini, seperti di Štempat-tempat lain identitas Alam dan manusia tampak, di dalamnya hubungan terbatas manusia dengan Alam menentukan hubungan terba-tas satu sama lain, dan hubungan terbatas mereka satu sama lain menentukan hubungan terbatas mereka dengan Alam, hanya karena jarang modifikasi historis Alam telah terjadi. Di pihak lain, terdapat kesadaran manusia tentang kebutuhan berasosiasi dengan individu-individu di sekitarnya, dan awal mula kesadarannya bahwa ia hidup dalam masyarakat. Awal mula ini sama binatangnya dengan kehidupan sosial itu sendiri pada tahap ini. Ini hanyalah kesa-daran-gerombolan, dan manusia hanyalah berbeda dengan kambing pada titik ini, oleh kenyataan bahwa baginya kesadaran mengganti-kan tempat naluri, atau bahwa nalurinya adalah naluri yang disa-dari.

Dalam karya yang sama, Marx melanjutkan,”…Kesadaran yang seperti domba atau kesadaran kesukuan mengalami perkembangan dan perluasan lebih lanjut melalui peningkatan produktivitas, peli-pat-gandaan kebutuhan, dan, apa yang mendasari keduanya, penin-gkatan jumlah penduduk. Sejalan dengan perubahan-perubahan ini terdapat perkembangan pembagian kerja dalam masyarakat yang pertama-tama tidak lain adalah pembagian kerja dalam tindakan seksual, dan kemudian pembagian kerja yang yang muncul secara spontan atau “alamiah” berdasar atas kemampuan alamiah (yaitu kekuatan badan), kebutuhan, kebetulan, dsb…”(Marx, 1964:72).

Kerja mentransformasi alam dalam dua cara. Ia mentransformasi obyek alam dan ia juga mentransformasi subyek. Dua perkembangan ini saling tergantung secara dialektis. Di samping itu, kesadaran berkembang dengan bertambahnya aktivitas produksi, kebutuhan baru, populasi yang bertambah, hubungan yang sangat kompleks, dan pembagian kerja. Dengan munculnya pembagian antara kerja mental dan kerja fisik, maka muncullah teori abstrak, pandangan filsafat dan moralitas (Kain, 1986;49).

Manusia sangat tergantung pada produksi yang mereka lakukan, tentang apa dan bagaimana mereka berproduksi. Subyek dan obyek itu keduanya ditransformasikan secara historis. Dunia yang diin-drai bukanlah sesuatu yang tak dapat dirubah. Obyek sederhana dari persepsi adalah produk industri dan hubungan produksi.

Dalam Economic dan Philosophical Manuscripts, Marx menjelas-kan lebih lanjut soal ini: “…Sejarah industri, dan industri sebagaimana ada secara objektif, adalah buku terbuka tentang kemampuan manusia, dan psikologi manusia yang bisa secara lang-sung dipahami. Sejarah ini sebelumnya tidak dipahami dalam hubun-gan dengan alam manusia, tetapi hanya dari titik pandang utili-taran yang superfisial, karena, dalam kondisi alienasi, kemungki-nan satu-satunya ialah memandang kemampuan nyata manusia, dan tindakan-spesies manusia, dalam bentuk keberadaan abstrak manusia, yaitu, agama, atau sebagai sejarah dalam bentuk umum dan abstrak, politik, seni, dan sastra. Industri sehari-hari, materi-al […] memperlihatkan kepada kita, dalam bentuk objek-objek yang bisa diindera, eksternal, dan berguna dalam bentuk teralien-asi, kemampuan esensial manusia ditransformasi menjadi objek-objek. Tidak ada psikologi untuk mana buku ini, yaitu bagian dari sejarah yang paling kelihatan dan bisa diperoleh, tetap tertutup, bisa menjadi ilmu yang tulen dengan isi yang nyata. Apa yang harus dipikirkan tentang ilmu yang masih tetap jauh dari bidang kerja manusia yang sangat besar, bidang ilmu yang tidak mengakui ketidak-memadaiannya sendiri, selama kekayaan besar aktivitas manusia tidak berarti apa-apa baginya, kecuali barangkali apa yang bisa diekspresikan dalam satu kata–“kebutuhan” atau “kebutuhan bersama”?

Ilmu-ilmu alamiah telah mengembangkan aktivitas yang hebat sekali dan telah mengumpulkan massa data yang terus bertambah. Tetapi filsafat tetap jauh dari ilmu-ilmu itu sama seperti ilmu-ilmu itu jauh dari filsafat. Mendekatnya mereka sementara waktu hanyalah khayalan fantastik. Ada hasrat untuk menyatu, tetapi kekuatan untuk mewujudkannya sangat kurang. Historiografi sendiri hanya mengambil ilmu alam secara tidak sengaja ke dalam ka-jiannya, menganggapnya sebagai satu faktor yang membuat pencera-han, untuk kegunaan praktis, dan untuk penemuan-penemuan besar tertentu. Tetapi ilmu-ilmu alam telah menyusupi semua dengan lebih praktis ke kehidupan manusia, melalui transformasi mereka atas industri. Ilmu-ilmu alam telah mempersiapkan emansipasi manusia, sekalipun akibat langsungnya menegaskan dehumanisasi manusia. Industri adalah hubungan historis nyata Alam, dan dengan demikian hubungan historis nyata ilmu-ilmu alamiah, dengan manu-sia. Konsekuensinya, jika industri dianggap sebagai bentuk ekso-teris dari realisasi kemampuan esensial manusia, kita mampu memperoleh juga esensi manusiawi dari Alam atau esensi alamiahmanusia. Ilmu-ilmu alam akan meninggalkan orientasi abstrak materialis, atau tepatnya idealis, dan akan menjadi basis dari ilmu manusia, sebagaimana mereka telah menjadi –meskipun dalam bentuk teralienasi–basis dari kehidupan manusia sebenarnya. Satubasis untuk kehidupan dan basis yang lain untuk ilmu adalah suatu kesalahan a priori. Alam, sebagaimana berkembang dalam sejarah manusia, dalam asal mula masyarakat manusia, adalah alam nyatamanusia; maka Alam, sebagaimana ia berkembang melalui industri, walaupun dalam bentuk teralienasi, adalah Alam antropolgis yang sebenarnya (Marx, 1964;73).

Marx mengatakan bahwa tingkat sejauh mana solusi persoalan teoretis adalah tugas praktis, dan dilakukan melalui praktek, dan tingkat sejauh mana praktek yang tepat adalah kondisi dari teori yang benar dan positif, diperlihatkan misalnya dalam kasus fetishisme. Persepsi indera dari fetishist berbeda dengan persep-si indera seorang Yunani karena keberadaan inderawinya berbeda. Permusuhan abstrak antara indera dan jiwa tidak bisa dihindari sejauh indera manusia untuk Alam, atau makna manusia tentang Alam, yakni, konsekuensinya, indera alamiah manusia, belum dipro-duksi melalui kerja manusia sendiri.

Karena itu faktanya ialah bahwa individu-individu tertentu, yang aktif secara produktif dalam cara tertentu, memasuki hubungan-hubungan sosial dan politik tertentu ini. Dalam tiap-tiap kasus partikular, observasi empiris harus memperlihatkan secara empiris, dan tanpa mistifikasi atau spekulasi, hubungan antara struktur sosial dan politik dengan produksi. Struktur sosial dan Negara secara terus menerus berkembang dari proses-hidup indivi-du-individu tertentu, individu-individu tidak seperti yang terli-hat dalam imajinasi mereka sendiri atau orang lain, tetapi seba-gai nyatanya mereka: yakni, sebagaimana mereka bertindak, mengha-silkan kehidupan material, dam tinggal dalam batas-batas, per-sangkaan-persangkaan, dan kondisi-kondisi material tertentu, yang bebas dari kehendak mereka.

Dalam German Ideology ia menambahkan, “Produksi gagasan, konsepsi, dan kesadaran pertama-tama saling berkait secara lang-sung dengan aktivitas material dan hubungan material manusia, bahasa dari kehidupan nyata. Representasi dan pemikiran, hubungan mental manusia, tetap terlihat pada tahap ini sebagai berasal langsung dari perilaku mental mereka. Hal yang sama berlaku untuk produksi mental sebagai diekspresikan dalam bahasa politik, hukum, moral, agama, dan metafisik dari orang-orang”.

Manusia adalah penghasil konsepsi dan gagasan. Mereka–manusia nyata yang aktif, sebagaimana mereka dikondisikan oleh perkembangan tertentu kekuatan produktif mereka, dan perkem-bangan hubungan-hubungan yang berkorespondensi dengan ini, sampai bentuknya yang paling ekstensif. Kesadaran tidak pernah merupakan sesuatu selain keberadaan yang sadar, dan keberadaan manusia Šadalah proses hidup aktual mereka.

Marx mengatakan bahwa pandangan filsafatnya berbeda filsafat Jerman, yang menurutnya, “…turun dari langit ke bumi, di sini kita naik dari bumi ke langit. Yakni kita tidak berangkat dari apa yang dikatakan, dibayangkan, atau dianggap orang, tidak juga dari apa yang dikatakan, dipikirkan, dibayangkan, dianggap ten-tang manusia, untuk mencapai manusia dalam daging itu. Kita memulai dari manusia nyata, aktif, dan dari proses-hidup nyata mereka memperlihatkan perkembangan cerminan-cerminan ideologis dan gaung-gaung proses-hidup ini. Hantu-hantu otak manusia juga perlu sublimasi-sublimasi dari proses-hidup material manusia, yang bisa secara empiris ditetapkan dan yang terikat pada prakon-disi-prakondisi material.

Moralitas, agama, metafisika, dan ideologi-ideologi lain, dan bentuk-bentuk kesadaran mereka yang berkorespondensi, karena itu tidak lagi memelihara/memakai penampakan keberadaan otonom mereka. Mereka tidak memiliki sejarah, perkembangan; adalah manusia, yang, dalam mengembangkan produksi material mereka dan hubungan material mereka, merubah, sejalan dengannya, keberadaan nyata mereka, pemikiran mereka dan produk-produk pemikiran mere-ka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran oleh kehidupan. Mereka yang mengambil metode pendekatan pertama memulai dengan kesadaran, menganggapnya sebagai individu yang hidup; mereka yang mengambil metode kedua, yang berkorespondensi dengan kehidupan nyata, memulai dengan individu-individu itu sendiri nyata yang hidup, dan menganggap kesadaran hanya sebagai kesadaran mereka,” kata Marx.

Metode pendekatan ini, menurutnya, bukannya tanpa praangga-pan, tetapi ia memulai dengan praanggapan-praanggapan yang nyata dan tidak meninggalkannya untuk sementara waktu. Premisnya ialah manusia, tidak dalam kondisi pemenuhan atau stabilitas yang imajiner, tetapi dalam proses perkembangan aktual mereka yang bisa diamati secara empiris di bawah kondisi-kondisi tertentu. Segera setelah proses-hidup aktif ini dilukiskan, sejarah tidak lagi menjadi kumpulan fakta mati seperti sejarahnya kaum empirist (mereka sendiri tetap abstrak), atau aktivitas rekaan dari sub-yek-subyek rekaan, sebagaimana dengan kaum idealis.

“Di mana spekulasi berhenti — dalam hidup nyata — ilmu nyata, positif, representasi aktivitas praktis dan proses prak-tis perkembangan manusia, dimulai. Pembuatan-ungkapan tentang kesadaran berhenti, dan pengetahuan nyata harus menggantikan tempatnya. Ketika realitas digambarkan, filsafat sebagai aktivi-tas independen kehilangan medium keberadaannya. Paling banyak tempatnya hanya bisa diambil oleh ikhtisar hasil-hasil umum, yang berasal dari pengkajian tentang perkembbangan historis manusia. Dalam dirinya dan dipisahkan dari sejarah nyatan, abstraksi-abstraksi ini tidak memiliki nilai sama sekali. Mereka hanya bisa mendorong aransemen bahan-bahan sejarah, dan mengindikasikan urutan lapisan-lapisannya yang terpisah. Merka tidak memberikan, seperti filsafat, resep atau skema, dengan apa zaman-zaman sejarah bisa dibedakan dengan tepat. Sebaliknya, kesulitan-kesu-litan hanya muncul ketika kita memulai pengkajian dan aransemen bahan-bahan, dari zaman yang lalu maupun sekarang, dan represen-tasi kenyataan”, tulis Marx dalam German Ideology.

Dalam Economic and Philosophical Manuscript, Marx melanjutkan bahwa aktivitas sosial dan benak sosial tidaklah ada hanya dalam bentuk aktivitas atau benak yang sosial secara manifest. Akan tetapi, aktivitas dan benak sosial, yakni aktivitas dan benak yang memperlihatkan diri sendiri lansung dalam asosiasi nyata dengan orang lain, terealisasi di mana-mana di mana ekspresi langsung sosiabilitas ini didasarkan pada sifat-dasar aktivitas atau berkorespondensi dengan sifat-dasar benak.

Menurut Marx, “Bahkan ketika saya melakukan kerja ilmiah, dsb.–suatu aktivitas yang jarang bisa saya lakukan dalam asosia-si langsung dengan orang lain — saya melakukan tindakan, karena manusiawi, sosial. Ini bukan hanya karena material dari aktivitas saya– seperti bahasa sendiri yang digunakan pemikir — yang diberikan kepada saya sebagai produk sosial. Keberadaan saya sendiri adalah aktivitas sosial. Karena alasan ini, apa yang saya sendiri hasilkan, saya hasilkan untuk masyarakat dan dengan kesadaran bertindak sebagai makhluk sosial” (Marx, 1964:77).

Catatan akhir

Seperti yang kita ketahui, Marx menolak subyektivisme seperti yang dipegang oleh para empirisis. Jadi, tak ada “benda-pada-dirinya” (thing-in-itself) yang tidak diketahui muncul dalam pandangannya. Marx juga menolak pandangan Idealis Jerman bahwa yang nyata adalah suatu hasil pikiran–suatu dunia pikiran yang dari waktu ke waktu “menerima sentakan dari luar” (Kain, 1986;85). Marx menolak benda-pada-dirinya yang tak diketahui ini, atau impuls Fichtean seperti apa yang ditulisnya dalam “German Ideology”.

Marx berpendapat bahwa kapitalisme yang menciptakan ilusi antara suatu yang tampak pada kita dan benda-pada-dirinya. Kecen-derungan fetishistis dari kapitalisme memperlihatkan untuk men-yerap alam secara total ke kategori sosial. Segalanya dilihat sebuah “alat produksi” atau “benda yang berguna”. Obyek alam berhenti untuk mendapatkan sebuah pengesahan “untuk dirinya di luar lingkaran produksi dan pertukaran”.

Fetihisme, bagi Marx, bermakna bahwa relasi antara orang menjadi tampak sebagai hubungan antar benda. Produser bebas meletakkan produk mereka di pasar, hukum pasar dipakai, dan mereka mulai menguasai individu-individu ini. Hubungan antara benda (produk) terlihat independen, otonom, dan alami. Konsep fetihisme ini bagi Marx menjadi suatu kategori epistemologis yang penting.

Daftar Pustaka

  1. Kain, Philip J., 1986, Marx’ Method, Epistemology, and Humanism, A Study in the Development of His Thought, D. Reidel [Publishing Company, Dordrecht, Holland]
  2. Marx, Karl, 1964, [Selected Writings in Sociology and Social]
  3. Philosophy, [foreword by Erich Fromm, T.B. Bottomore and Maxmillien Rubel (editor), McGraw-Hill, New York]
  4. Marx,Karl and F. Engels, 1981, [On Religion, Progress, Publisher, Moscow]

~ oleh Anti Capitalism pada Februari 1, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: