Arsitektur Telkom Rakyat

Onno W. Purbo

 

Tulisan ini berusaha untuk menggambarkan arsitektur Telkom Rakyat berbasis Teknologi 4G (jelas bukan 3G) menggunakan teknologi & kemampuan yang ada di Internet maupun yang sudah ada cilkal bakalnya di Indonesia. Setahu saya, sampai detik ini, belum ada pemikiran mengarah ke Telkom Rakyat dipikiran KOMINFO maupun POSTEL.

 

Teknologi Telkom Rakyat harus dilihat secara modular / berlapis. Harus dapat di implementasikan dengan mudah dan murah. Dapat di operasikan oleh bangsa Indonesia tanpa perlu utangan Bank Dunia dan IMF, bahkan tanpa campur tangan pemerintah. Lapisan teknologi Telkom Rakyat, terdiri atas, (1) teknologi akses jaringan berkecepatan tinggi berbasis 4G di atas-nya secara default dapat di operasikan Internet, (2) backbone jaringan data regional & internasional, (3) teknologi Internet telepon dengan sentral telepon yang sangat terdistribusi, dan (4) interkoneksi / peering antar sentral maupun antar akses jaringan.

 

Telkom Rakyat dari sisi non-teknis & manajemen, (1) sama sekali tidak terpusat, tidak monopoli, betul-betul dikuasai rakyat, di operasikan oleh rakyat, bukan pemerintah, dan bukan operator (2) Alokasi nomor telepon menjadi multak, KOMINFO & POSTEL jelas belum memberikan nomor pada rakyat Indonesia biasa. Perjuangan alokasi nomor akan menjadi bagian integral bagi kemerdekaan Telkom Rakyat.

 

Pertanyaan mendasarnya – berapa biaya per bulan per rakyat untuk mengakses Telkom Rakyat? Siswa di sekolah dapat mengakses dengan biaya Rp. 3000-5000 / siswa / bulan, sementara kos-kosan-net yang paling murah di Bandung sekitar Rp. 50.000 / bulan / anak kos, dan RT/RW-net sekitar Rp. 150-350.000 / bulan untuk akses unlimited ke Telkom Rakyat. Harga ini sangat mungkin turun di kemudian hari dengan semakin banyaknya pengguna Telkom Rakyat di Indonesia. Jelas harga rakyat jelata ini sangat bersaing dengan harga dari operator telekomunikasi yang berlisensi dari pemerintah.

 

Teknologi akses / jaringan Telkom Rakyat pada sisi ekstrim akan berbasis “fiber optik to the home”, tapi secara umum akan lebih banyak berbasis WiFi IEEE802.11a/b/g, maupun keluarga WiMAX IEEE802.16. Kita melihat kecepatan minimal sekitar 11Mbps dan kecepatan normal sekitar 54Mbps per sambungan. Sel-sel RT/RW-net di tanah air dengan konsentrasi komunitasnya di indowli@yahoogroups.com menjadi  kunci terbentuknya akar operator telkom rakyat. Teknologi wajanbolic & pancibolic seperti yang di kembangkan oleh Pak Gun dari Jogja salah seorang aktifis di indowli@yahoogroups.com memungkinkan peralatan pelanggan Telkom rakyat pada kecepatan 11-54Mbps untuk jarak 3-4 km dapat di tekan menjadi sekitar Rp. 350.000,- saja! Dengan menggunakan teknologi RT/RW-net, istilah n’deso dari MetroLAN, investasi per rumah untuk kecepatan akses Fast Ethernet 100Mbps hanya sekitar Rp. 100-200.000,- saja.

 

Isu besar yang seru adalah backbone kecepatan tinggi regional. Ideal-nya adalah fiber optik, saat ini kebanyakan milik Telkom dan XL. Yang dibutuhkan adalah injeksi data langsung ke router-router fiber optik tersebut tanpa transit di sentral-sentral tandem milik para operator telekomunikasi ini. Dengan kerapatan ~1000 orang/km persegi, Jawa & Bali sangat feasible untuk fiber optik, di susul oleh Sumatra. Kalimatan, Sulawesi apalagi Indonesia timur mau tidak mau sangat tergantung pada microwave link & satelit. Rekan Eko aktifis di indowli@yahoogroups.com, telah melaporkan keberhasilannya membangun link 11Mbps untuk jarak 40+ km menggunakan teknologi IEEE802.11. Link yang di bangun menggunakan relay di Gunung Salak Bogor untuk mencapai wilayah-wilayah di Jakarta, Tanggerang, Sukabumi & sekitarnya. Jelas link-link gerilya ini akan menjadi basis bagi tulang punggung Telkom Rakyat.

 

Teknologi sentral Telkom Rakyat telah didemokan dengan baik oleh VoIP Rakyat http://www.voiprakyat.or.id berbasis mesin Acer Xeon Dual processor oleh Anton Raharja cs dari ICT Center Jakarta. Teknologi SIP yang menjadi dasar dari 4G dapat diimplementasikan menggunakan banyak sentral telepon open source, seperti, asterisk, sipX, freePBX dll. Semua dapat di ambil secara terbuka di Internet, bagi mereka yang kesulitan dapat bergabung dan bertanya kepada para aktifis di voipmerdeka@yahoogroups.com.

 

Secara filosofis, nomor telepon 4G sebetulnya menggunakan format seperti e-mail, yaitu, sip: nama@sentral.telepon.rakyat, dengan cara ini sebetulnya konsep kode area, dan kode negara menjadi obsolete. Tapi untuk memudahkan mereka yang masih “kolot”, ENUM server di voiprakyat.or.id telah di aktifkan & merupakan salah satu ENUM  server pertama Indonesia yang berhasil aktif, selain, enum.groups.or.id. ENUM server memungkinkan nomor telepon konvensional, +62 81x xxxx, untuk di petakan ke nomor 4G Telkom Rakyat nama@sentral.telepon.rakyat. Pertanyaannya – apakah KOMINFO & POSTEL mau / berani mengalokasikan nomor telepon kepada rakyat Indonesia tanpa melalui operator? Jelas ini tidak ada dasarnya di undang undang Indonesia manapun.

 

Bagi mereka yang masih kaku dalam menggunakan Linux, dapat menggunakan teknologi sentral Axon PBX berbasis Windows yang dapat di ambil di http://nch.com.au/pbx/. Artinya, semua orang sebetulnya dapat dengan mudah membuat sentral telepon sendiri dan melakukan interkoneksi / peering dengan sentral lainnya. Dengan hosting sentral VoIP Rakyat http://www.voiprakyat.or.id di Open IX, memungkinkan pengembangan sentral-sentral kecil di seluruh Indonesia untuk melakukan peering dengan mudah.

 

Kunci keberhasilan Telkom Rakyat terletak pada keberhasilan para aktifis dalam menyebarkan ilmu kepada masyarakat dan memandaikan masyarakat agar tidak dibodohi oleh oknum partai, regulator & birokrat. Adalah tugas kita semua untuk mengajarkan teknologi Next Generation Network Telkom Rakyat kepada bangsa Indonesia.

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 25, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: