Penggusuran PKL Pasar Kebon Kembang 2005

BOGOR, (PR).-
Penggusuran ratusan lapak milik pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini memadati badan Jalan M.A. Salmun, Kota Bogor, berlangsung tegang. Para PKL yang tidak rela kehilangan lapaknya berusaha menghalang-halangi petugas dengan berbagai cara. Seorang ibu bahkan sempat menjadikan anak balitanya sebagai tameng hidup untuk menghadang iring-iringan kendaraan berat.SEORANG pedagang ikan basah di Pasar Anyar Kota Bogor tak mau beranjak meski di belakangnya buldoser yang sedang melakukan pembongkaran semakin mendekat, Rabu (13/7). Terhitung Rabu (13/7) dinihari, tim gabungan Pemkot Bogor dan unsur muspida melakukan pembongkaran ratusan lapak PKL di kawasan Pasar Anyar.*TJAHYADI ERMAWAN/PAKUAN

Pada umumnya, para PKL tidak rela terhadap pelaksanaan penggusuran tersebut. Alasannya, penggusuran yang diprogramkan Pemkot Bogor itu berlangsung mendadak. Mereka mengaku sebelumnya tidak pernah diberitahu terlebih dahulu. “Kami ini orang miskin. Seharusnya pemkot Bogor memahami kondisi kami. Kalau kami kaya, kami juga pengen berjualan di toko,” teriak ibu tersebut sambil terus mengangkat bayinya tinggi-tinggi.

Namun, upaya ibu tersebut gagal total. Beberapa saat setelah dia kelelahan, sebuah buldozer tanpa belas kasihan mulai merubuhkan tiang lapaknya satu per satu. Perempuan berkerudung putih itu akhirnya mengalah. Namun ia meminta waktu agar bisa memunguti tenda dan kayu yang tersisa. Setelah itu ia hanya bisa pasrah melihat lapaknya dilibas roda-roda besar buldozer.

Aksi protes terhadap pembongkaran itu diteriakkan pula oleh Opik, seorang PKL pedagang buku. Menurutnya, penertiban yang dilakukan pada malam hari itu tidak adil. Kendati dia mengetahui akan ada penertiban, Opik tetap saja tidak terima. Dia bersikukuh, Pemkot Bogor tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu. “Kalau Pemkot Bogor bijak, seharusnya kami diberi tahu terlebih dahulu,” ujarnya berapi-api.

Beberapa pedagang lainnya juga terpicu emosinya. Bahkan beberapa pedagang perempuan berlari ke arah buldozer yang sudah meratakan sebagian lapak mereka. Sambil berteriak histeris dan menangis mereka minta agar penertiban dihentikan.

Kepala Dinas Satpol PP Kota Bogor, Hidajat A.S., sebagai pelaksana pembongkaran itu membantah keras pihaknya tidak melakukan sosialisasi kepada para PKL. Sebab, para PKL yang berjumlah 490 itu sebelumnya sudah diberi tahu.

Menurutnya, sosialisasi sudah dilakukan pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor, sejak tiga bulan lalu. Bahkan, sosialisasi dibuat secara tertulis dengan nomor 511.1/621. Inti surat menyebutkan penertiban PKL akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2005 pada pukul 21.00 WIB. Dalam surat tersebut para PKL diminta untuk membongkar sendiri lapak-lapaknya

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 23, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: