Penggusuran Di Tanak Awu 2005

Jakarta, 29 November 2005

Selasa (29/11) pukul 14.00 WIB. Sepuluh petani yang mencoba bertahan dan melakukan perlawanan terhadap aksi penggusuran di Tanak Awu-Lombok Tengah-NTB ditangkap aparat kepolisian. Mereka yang ditangkap diantaranya (sampai saat ini kami baru mengumpulkan 6 nama), Mamiq Mariana, Bapak Nurhanah, Musanif, Mamiq Fit, Bapak Masiah dan Bapak Anita. Semuanya laki-laki.
Sejak tadi pagi petani Tanak Awu mencoba bertahan dari penggusuran yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Lombok Tengah dan Propinsi NTB dikawal 10 truk pasukan dari Kepolisian dan TNI. Selain lahan pertanian, aparat juga menggusur Mesjid di lahan tersebut. Pemerintah berdalih mesjid yang berada di Lokasi akan diganti dengan masjid baru sebagai prasarana bandara.

Penggusuran dilakukan sebagai langkah persiapan peletakan batu pertama pembangunan bandara yang akan berlangsung besok, Rabu (30/11). Acara tersbut rencananya akan dihadiri oleh Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Menteri BUMN Soegiharto.

Aksi penggusuran mendapat perlawanan dari petani, sehingga aparat bertindak menangkapi para petani. Selain itu, aparat juga melakukan sweeping untuk mencari para pimpinan-pimpinan petani yang di tuduh sebagi penggerak aksi perlawanan penggusuran.

Deputi Pendidikan dan Pengembangan Organisasi Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), Ali Fahmi, mengecam aksi aparat yang bertindak sewenang-wenang terhadap petani. “Aksi penggusuran di Tanak Awu melanggar hak asasi petani,” katanya. Ia menambahkan semestinya pemerintah memberikan akses sebesar-besarnya kepada rakyat terutama petani untuk mengelola sumber-sumber agraria seperti tanah. Bukan sebaliknya, malah mengusir petani dari tanahnya.

Atas tindakan tersebut, FSPI menyerukan untuk menghentikan tindak penggusuran dan agar aparat membebaskan para petani yang ditahan. Lahan sengketa di Tanak Awu sampai saat ini masih dalam status quo. Mengingat, Komnas HAM sedang meneliti kasus kekerasan dan ketidakadilan sosial ekonomi di wilayah tersebut. “Sampai saat ini hasilnya belum keluar, tapi aparat malah melakukan tindakan propokatif dengan melakuan penggusuran,” tambah Ali.

Usaha penggusuran sudah terjadi berkali-kali terhadap petani Tanak Awu. Latar belakang penggusuran tersebut adalah rencana pemerintah untuk membangun bandara bertaraf internasional di atas lahan petani seluas kurang lebih 800 hektar. Namun pembebasan tanah yang dilakukan di masa orde baru dianggap petani tidak adil dan penuh manipulasi.

Dilahan tersebut, ratusan keluarga petani Tanak Awu menggantungkan hidupnya. Apalagi saat ini sudah masuk musim tanam, dimana para petani sudah bersiap-siap menanami lahan mereka.

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 23, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: