Warga Penggusuran Kali Adem 2003

Keceriaan Lebaran Tinggal Kenangan

JAKARTA — Bagi sebagian besar orang, peringatan hari raya Idul Fitri tidak lepas dari acara silaturahmi bersama sanak keluarga. Acara halal bihalal ini pun rasanya tak lengkap jika tidak ditemani hidangan ketupat, opor ayam, atau sajian khas lainnya. Bagi anak-anak, lebaran juga berarti pakaian baru dan angpau alias salam tempel.


N amun, keceriaan seperti itu tidak dirasakan ratusan nelayan Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara. Jangankan opor ayam, ketupat, dan pakaian baru, rumah untuk berteduh pun yang memadai pun tidak mereka miliki. Pasalnya, beberapa hari menjelang puasa, rumah-rumah sederhana mereka telah digusur, rata dengan tanah.
Setelah rumah kediamannya rata dengan tanah, sebagian dari nelayan Kali Adem yang jumlahnya mencapai 240 kepala keluarga (KK) memang tinggal di perahu. Sedang sebagian yang lain, karena ingin perahunya kembali bisa digunakan untuk mencari ikan, akhirnya nekad kembali membangun gubuk-gubuk darurat di atas puing-puing reruntuhan rumah mereka sendiri.
Tak semua keluarga di perkampungan darurat itu memiliki gubuk sendiri-sendiri. Mereka yang tidak memiliki gubuk memilih berkumpul dan tinggal bersama di sebuah posko yang juga berfungsi sebagai mushalla. Sedangkan makanan untuk seluruh kelompok dimasak bersama di dapur umum. Menunya tak lain dari nasi hasil sumbangan beras ditambah ikan hasil tangkapan sendiri.
Dalam kondisi serba darurat inilah nelayan Kali Adem menyambut perayaan Idul Fitri. Tak ada makanan istimewa seperti lazimnya di kala lebaran. Yang tersaji di hadapan mereka setiap hari sama: nasi dan lauk ikan hasil tangkapan sendiri. Tak ada baju baru, atau sepatu baru karena para nelayan sudah hampir sebulan lebih tidak melaut. Tanpa tangkapan, uang pun tak bisa mampir ke kantong.
Djunaedi (56), misalnya. Saat hari lebaran tiba, Selasa (25/11) lalu, di kantong celananya hanya ada uang sebesar Rp13 ribu. Uang tak seberapa itu adalah penghasilan yang ia peroleh setelah melaut selama dua hari, sebelum perusahaan penampung ikan hasil tangkapan nelayan tutup karena libur lebaran, Sabtu (22/11). ”Terus terang saja, saya hanya sempat melaut dua hari sebelum tengkulaknya tutup. Hari pertama, saya mendapat Rp6 ribu. Hari kedua dapat Rp7 ribu. Cuma itu yang saya miliki. Sebelumnya saya tak pernah melaut semenjak penggusuran itu. Bagaimana saya bisa melaut, kalau perahu jadi rumah? Anak dan istri kita tinggal di situ. Kalau meninggalkan keluarga di sini, juga tak mungkin, karena kalau melaut bisa sampai sebulan baru kembali ke sini,” tutur Djunaedi dengan nada lirih.
Dengan uang sebesar Rp13 ribu itu, ayah dua putri—masing-masing berusia 9 dan 12 tahun—ini tentu tak sanggup membelikan baju baru bagi kedua buah hatinya. Lebih tidak mungkin lagi mengajak keluarganya berkunjung ke rumah sanak famili di Indramayu, Jawa Barat, seperti yang sering ia lakukan di lebaran sebelumnya. Karena itu, semula Djunaedi hanya berniat mengisi hari lebaran dengan bersalat Ied di Masjid Pengasinan, tanpa acara khusus lain.
Tetapi, rengekan kedua putrinya yang hanya meminta si ayah untuk membawa mereka berpelisiran mengunjungi Mega Mall Pluit, tidak mampu ditampiknya. Dengan uang yang masih tersisa di kantung celananya, ia pun mengajak kedua putri serta istrinya berjalan-jalan. Secara kebetulan, ia berpapasan dengan SH di jalan setapak yang dulunya adalah lorong dan halaman rumah mereka.
”Tadinya, saya tak berniat ke mana-mana. Tak ada uang. Tetapi, karena anak-anak terus minta diajak jalan-jalan, akhirnya saya turuti keinginan mereka. Sekali setahun, biarlah menyenangkan hati anak-anak. Ini nanti mau saya ajak mereka jalan-jalan ke Mega Mall Pluit. Kan semenjak dibuka, baru sekali anak-anak melihat mal itu. Jadi pasti mereka senang kalau diajak jalan-jalan ke sana, meskipun tak membeli apa-apa. Lagi pula, ongkos pulang perginya hanya Rp 2.000,” ujar Djunaedi.
Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Kajidin, nelayan lainnya. Ditemui di posko Serikat Nelayan Tradisional, Kajidin menuturkan bahwa penggusuran yang terjadi kurang lebih sebulan lalu itu benar-benar telah melumpuhkan perekonomian para nelayan.
”Sejak seminggu sebelum penggusuran, kami sudah tak bisa melaut karena was-was meninggalkan anak dan istri. Bagaimana kalau rumah kami digusur sementara kami tengah melaut? Kemudian setelah penggusuran, keluarga kami tinggal di perahu. Dengan sendirinya kami tak bisa menggunakan perahu itu untuk mencari nafkah. Akhirnya, beberapa hari lalu kami mendirikan gubuk-gubuk darurat kami, sehingga bisa kembali melaut. Tetapi itu pun baru berlangsung satu dua hari, perusahaan yang menampung ikan kami tutup. Kembali kami tak bisa melaut. Mana ada uang untuk berlebaran kalau begitu?” ujar Kajidin.

Pencuci Piring
Sulitnya para nelayan mencari nafkah dengan melaut pada akhirnya memaksa kaum istri untuk mengambil alih tugas dan tanggung jawab mencari sesuap nasi. Para istri nelayan itu kemudian bekerja sebagai pencuci piring di rumah-rumah makan atau menjadi kuli cuci gosok di rumah-rumah warga sekitar yang ditinggal mudik pembantunya.
Setidaknya pengakuan ini diungkapkan Dawini, Dawira, Ipah, dan Nafsika, para ibu rumah tangga yang ditemui SH di lokasi gususran Kali Adem pada hari pertama perayaan hari raya Idul Fitri. Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami keluarga Djunaedi, maka Dawini dan Dawira terpaksa melupakan perayaan Idul Fitri mereka dengan bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan di Muara Karang.
Menurut Dawini dan Dawira, mereka harus tetap bekerja meski lebaran demi memenuhi permintaan anak-anak. Untuk pekerjaan itu, baik Dawira maupun Dawini mendapatkan upah yang lebih besar dari hari biasanya. Jika pada hari-hari biasa mereka mendapatkan upah Rp15 ribu per hari maka di hari itu mereka mendapat Rp25 ribu per hari.
”Kasihan Mas, dari mulai digusur kemarin sampai sekarang anak-anak nggak pernah keluar. Siang malam anak-anak tinggal di dalam,” kata Dawini sembari menunjukkan gubuk darurat dengan ukuran lebar dua meter dengan ketinggian dua meter berikut tiang penyangganya.
Untuk masuk ke dalamnya, mereka harus terlebih dahulu menunduk agar kepalanya tidak terbentur kayu pembatas pintu masuk. Miris memang. Tempat tinggal itu terlihat tak ubahnya kandang ayam, bahkan mungkin kandang ayam lebih baik.
Lalu siapa yang menjaga anak-anak ketika mereka bekerja? Rasa kebersamaan di kala susah menjadi jawabannya. Peran Ibu Sariti, wanita berusia 55 tahun inilah yang dipercayakan oleh para ibu-ibu rumah tangga tersebut untuk menjaga anak-anak ketika mereka bekerja. ”Orang lain lebaran senang-senang, kita di sini ya seperti ini, susah. Boro-boro mau jenguk keluarga di kampung, ongkos dapat darimana.” ujarnya.
Keluhan demi keluhan yang lebih mirip keputusasaan itu kemudian mengalir dari mulutnya mempersalahkan si pembuat kebijakan atas tergusurnya mereka dari kediaman yang mungkin sudah mereka diami selama belasan atau bahkan puluhan tahun lamanya.
”Air matanya jangan dihapus supaya dilihat Sutiyoso,” celetuk seorang ibu kepada putranya ketika SH hendak mengabadikan foto-foto mereka bersama di lokasi penggusuran Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara. (edl/rhu/fel), Sinar Harapan

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 22, 2008.

 
%d blogger menyukai ini: