Pemberontakan Komunis 1926

Minggu, 04 Nov 2007

Menes, Banten, 13 November 1926, pukul satu malam.

Diawali dengan teriakan sabil Allah, empat ratus orang bersenjata bedil dan kelewang yang sebagian besar berpakaian putih menyerbu kediaman Wedana Raden Partadiningrat. Dalam penyerangan itu wedana dan pengawalnya berhasil menumbangkan beberapa orang pemberontak, sebelum akhirnya mereka jatuh tewas di tangan pemberontak. Sementara itu kelompok pemberontak lain berhasil menguasai stasiun dan menawan pengawas kereta api Benjamins.

Benjamins adalah satu-satunya orang Belanda di daerah itu. Ketika ditawan oleh para pemberontak, ia menyatakan bersedia untuk masuk Islam. Namun belakangan polisi Belanda menemukan potongan tubuhnya di dekat rel kereta api. Selain itu rumah pensiunan patih pun tak luput dari sasaran para pemberontak

Pada malam yang sama, di Labuan, kelompok pemberontak lain menyerang kediaman Asisten Residen Mas Wiriadikoesoema. Ia dan keluarga berhasil ditawan pemberontak. Sementara itu seorang polisi pengawalnya terbunuh dan dua lainnya terluka parah dalam insiden penyerbuan itu.

Insiden berdarah itu merupakan penggalan cerita pemberontakan komunis di Banten pada 1926 yang pernah ditulis oleh Michael C Williams dalam disertasi doktornya. Ada sebuah keunikan dalam kisah tersebut, tentang bagaimana bisa teriakan sabil Allah berkumandang di dalam sebuah pemberontakan komunis, sebuah ideologi yang dikenal anti-Tuhan.

Islam komunis, seperti yang terjadi pada kasus Banten tahun 1926, menampakkan satu paradoks yang nyata. Pada bulan Maret 1925, JC Bedding, pensiunan Residen Banten menulis surat kepada Gubernur Jenderal, “ Rakyat Banten sangat religius dan konservatif, sehingga komunisme tidak akan pernah berkembang di sini”. Ketika terbit pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada satu agama pun yang memperlihatkan resistensinya terhadap komunisme kecuali Islam, sejarah membuktikan bahwa di Indonesia pendapat itu tak selamanya benar.

Semenjak Sneevliet datang ke Hindia Belanda, ide-ide Marxis diadopsi sebagai materi penyadaran kelas oleh kaum buruh, wabilkhusus buruh kereta api. Ajaran Marx juga diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana dengan harapan bisa diterima oleh rakyat Hindia Belanda. Sebut saja antara lain slogan “sama rasa sama rata” yang dipopulerkan oleh Mas Marco Kartodikromo melalui tulisannya di Harian Pancaran Warta awal Februari 1917. Tulisan itu menuntut persamaan hak antara kaum boemipoetra dengan warga Belanda.

Tan Malaka tahu benar potensi kekuatan perpaduan Islam dan komunis untuk melawan hegemoni kekuasaan kolonial di Indonesia. Oleh karena alasan itu pula ia menolak keinginan Komintern (organisasi komunis dunia yang berpusat di Moskwa, Uni Soviet) untuk menjadikan Pan Islam di Indonesia sebagai musuh, satu paket dengan imperialisme.

Banten dan Silungkang (Sumatera Barat) adalah contoh dalam soal hubungan Islam dengan Komunisme untuk melawan pada penindasan kolonialisme. Pada pemberontakan komuis tahun 1926, dua wilayah yang terkenal karena keortodokan Islamnya itu justru jadi pusat perlawanan yang paling gigih terhadap pemerintah kolonial. Sebagaimana pernah ditulis oleh Michael Williams dan Mestika Zed, pemberontakan 1926 tersebut dipelopori oleh kelompok Muslim-Komunis. Tentu ini sebuah keunikan dalam sejarah tentang bagaimana komunis yang pasca peristiwa 1965 jadi momok menakutkan pernah mengangkat kelewang melawan kesemenaan penguasa kolonialisme.

Banten memiliki sejarah pemberontakan yang panjang. Semenjak Kesultanan Banten sebagai pemegang otoritas politik dihapuskan oleh Willems Daendels, tercatat ada empat kali pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Pertama pada 1850 yang dipimpin oleh Haji Wakhia, lantas 1888 oleh Haji Wasid, 1926 oleh tokoh muslim-komunis KH. Achmad Chatib dan 1945 yang juga dipimpin oleh KH Achmad Chatib dan Tje Mamat. Namun dalam peristiwa tahun 1945 pemberontakan lebih merupakan pertanda kebebasan dari cengkeraman kolonialisme.

Pada abad ke-19, Banten adalah wilayah yang tak tersentuh oleh perkembangan sosial ekonomi, berlawanan dengan daerah lain di Jawa Tengah dan Timur, di mana industri dan perdagangan dalam skala besar berkecambah di sana. Satu-satunya perubahan yang terjadi di Banten adalah meningkatnya perdagangan kelapa dan meningkatnya para perantau sebagai buruh/ pekerja ke Sumatra dan Batavia.

Dalam soal politik, Sarekat Islam (SI) Banten tak begitu populer di kalangan rakyat. Dominasi R. Hassan Djajadiningrat, adik bupati Serang R.A.A Ahmad Djajadiningrat, membuat SI Banten terkesan elitis. Hassan bahkan menyeleksi para elit agama yang ikut dalam organisasinya. Dan dia lebih cenderung memilih ulama yang berhaluan moderat, seperti Penghulu Serang R. Muhammad Isa, ketimbang KH Achmad Chatib yang radikal. Hassan juga membersihkan keanggotaan organisasi SI Banten dari para jawara yang dipandangnya sebagai kriminal.

Elitisme SI pimpinan Hassan tak mampu mengatasi kegalauan rakyat Banten atas penderitaan yang mereka alami. Sehingga mereka berbondong-bondong meninggalkan SI secepat ketika mereka ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai anggota SI. Ketika Hassan meninggal pada 1920, KH Achmad Chatib mengambil alih kepemimpinan SI. Di bawah kendali Chatib, SI harus bergerak di bawah tanah karena pemerintah mengawasi ketat gerakan SI pasca insiden afdeling B di Cimareme, Garut pada 1919. Insiden afdeling B bermula dari penolakan Haji Chasan terhadap pajak padi yang dibebankan oleh pemerintah kolonial. Sementara itu perpecahan SI menjadi SI Merah dan Putih tak banyak berpengaruh di Banten.

Di bawah kepemimpinan Chatib para jawara yang semula tersisihkan kini kembali memasuki arena politik melalui SI. Sinergi Islam dengan komunis di Banten bisa dipandang sebagai sebuah keunikan ‘“ jika tak boleh disebut anomali. Chatib sendiri adalah ulama yang terkenal konservatif, berbeda dengan para ulama yang bergabung dengan SI semasa kepemimpinan Hassan yang dikenal sekuler dan moderat. Selain taktik propaganda pembelaan terhadap wong cilik, salah satu sebab kenapa komunis bisa diterima secara cepat di Banten pada tahun-tahun menjelang pemberontakan 1926 adalah bergabungnya tokoh ulama dan jawara ke dalam PKI, yang juga dipimpin oleh orang-orang SI, seperti KH Achmad Chatib. Chatib sendiri ditahbiskan sebagai pemimpin “Golongan Ulama” sekaligus “Presiden Agama PKI Seksi Banten”. Dalam soal ini agaknya Chatib memiliki kesamaan pandangan dengan Haji Misbach yang yakin tidak ada perbedaan fundamental antara Islam dan Komunis.

Beberapa tokoh lain yang bergabung dengan PKI adalah Haji Tubagus Emed, putra Kyai Asnawi dari Caringin yang terkemuka di Banten. Atas kerja keras Haji Emedlah pemberontakan terealisasi, karena gerakan perlawanan sempat terhenti ketika Chatib ditangkap terlebih dulu oleh pemerintah sebelum pemberontakan dilancarkan. Menarik pula untuk dicatat bahwa dalam aksi-aksi menjelang pemberontakan 1926, banyak anak atau cucu dari para pejuang dalam pemberontakan di tahun 1850 dan 1888 yang turut bergabung. Haji Saleh misalnya, kakeknya terbunuh dalam peristiwa Haji Wakhia 1850 dan ayahnya juga turut terbunuh dalam peristiwa Pemberontakan tahun 1888. Masuknya para pemuka agama dan jawara menaikkan prestise gerakan di mata rakyat yang bermuara pada dukungan mereka terhadap pemberontakan.

Pemberontakan itu sendiri pada akhirnya menemui kegagalan. Persiapan yang tidak matang dan kurang konsolidasi. Kegagalan pemberontakan hasil keputusan para pimpinan PKI dalam konferensi Prambanan itu pun tak ayal mendapat cercaan dari Tan Malaka yang saat itu berada di pengasingan. Menurutnya pemberontakan itu hanyalah hasil karya para “revolusioner amatiran”.

Terlepas dari cap amatiran yang diberikan oleh Tan Malaka, sejarah mencatat pemberontakan komunis di Banten tersebut diakui sebagai aksi perlawanan masif pertama dalam periode sejarah Indonesia modern. Selain itu, pemberontakan ini juga mengguncang stabilitas Hindia Belanda dan membuat pemerintah harus menyediakan tempat penahanan khusus di Boven Digul sehingga dengan demikian pemerintah dapat mengembalikan rust en orde (ketenteraman dan ketertiban) di Hindia Belanda.

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 22, 2008.

Satu Tanggapan to “Pemberontakan Komunis 1926”

  1. pada bagian terlibatnya KH. Achmad Chatib bisa dikasih nuku rujukannya ga gan??!!! dan lebih bagus di kasi footnote krn tulisan ini sangat berguna gan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: