G 30 S PKI Tetap Misteri

Wawancara Bpk Hardoyo eks Ketua Umum CGMI.

Kalau kita bayangkan bahwa tahun-tahun ini sedang terjadi perubahan politik yang bersejarah di Indonesia. Sebetulnya sejak kemerdekaan, ini merupakan kedua kalinya kita menemui titik balik yang begini drastis. Perubahan sekarang mudah-mudahan tidak akan mengundang pertumpahan darah seperti yang kita alami sebelumnya. Pada perubahan drastis yang terjadi satu generasi yang lalu yaitu pada peristiwa gerakan Gerakan 30 September, terjadi pertumbahan darah yang luar biasa besarnya, bukan saja untuk ukuran Indonesia tapi juga untuk dunia. Perkiraan jumlah korban yang jatuh antara 100 ribu sampai sejuta, tapi ada orang bilang sekitar 500 ribu, tidak pernah akan ada yang tahu. Karena bagaimana pembunuhan itu terjadi adalah diluar lampu sorot politik apalagi lampu sorot pers. Kalau peristiwa G30S dan munculnya pemerintah Suharto sesudahnya, dibayangkan sebagai suatu pertentangan antara rezim Sukarno yang menaungi partai komunis, dengan pemerintah baru yang dimotori oleh Angkatan Darat. Pada waktu itu masyarakat Indonesia dan internasional menganggap bahwa korban-korban yang jatuh sebagian besar oleh emosi masyarakat yang melawan kegiatan orang-orang komunis, orang-orang PKI yang opresif, yang keras. Akan tetapi pandangan sejarah yang lahir sesudahnya dan sekarang, mempertanyakan juga apakah memang demikian hitam-putihnya. Mungkin juga suatu unsur yang ada dibelakang pembunuhan itu untuk motif-motif politik. Itu kita akan tinggalkan pada ahli sejarah, tapi korban manusianya yang ratusan ribu mati dibunuh, ribuan orang tahanan politik, mulai dari yang ringan seperti diambil hak-hak politiknya, sampai pada yang masuk pembuangan di Pulau Buru, masuk penjara, dan yang kabur atau diasingkan keluar negeri. Dengan pergantian rezim menjadi pemerintah yang lebih manusiawi, berangsur-angsur para pihak yang bersimpati kepada golongan kiri diijinkan untuk muncul kembali. Mereka muncul dari tahanan, mulai dari sastrawan terkemuka seperti Pramoedya Ananta Toer sampai pada tokoh-tokoh politik. Dengan wawasan yang tertempa oleh pengasingan dan penderitaan sekian puluh tahun, tamu Perpektif Baru kita sekarang adalah Bapak Hardoyo yang pada waktu kejadian G30S sebagai Ketua Umum Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), yang waktu itu sangat disegani dan ditakuti oleh pihak-pihak yang tidak senang pada komunis. Karena CGMI dianggap sebagai onderbow atau organisasi dalam lingkungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sekarang setelah ditahan sekian lama, pak Hardoyo akan menceritakan langsung pengalamannya kepada pemandu Perspektif Baru, Wimar Witoelar.

Supaya generasi sekarang mengerti, Bapak itu ketua umum CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), waktu itu sebesar apa dan bagaimana liputan organisasi Bapak dan apa hubungannya dengan Partai Komunis Indonesia?

CGMI lahir tahun 56 dari fusi CMB Bandung, CMY Yogya, dan GMI Bogor. Ketua pertamanya Kapten Ir. Agus Wiyono yang nanti menjadi Mayor Jendral dan Sekjen Departemen Perindustrian. Saya ketua umum pusat ketiga tahun 60-63 tapi justru itu tahun yang amat berat. Karena waktu itu dalam demokrasi terpimpin ada nasakomisasi. Pada tahun 64, CGMI ditantang, kalau CGMI tidak menyatakan kom dalam dewan-dewan mahasiswa tidak boleh duduk sebagai Dewan, karena dewan mahasiswa harus nasakom, katanya HMI dan sebagainya. Akhirnya CGMI tanya sama PKI, bolehkah CGMI menyatakan dirinya kom? Ya, nggak bisa, kamu komnya siapa ? wong CGMI macam-macam. Akhirnya ada kompromi, tahun 64 saya sudah tidak ketua umum lagi CGMI menjadi Organisasi Mahasiswa Komunis dan Progresif Non Komunis.

Jadi tidak didirikan oleh PKI dan waktu berdiri tidak ada hubungannya dengan PKI. Tapi ideologinya apakah memang komunisme?

Tidak ada hubungannya dengan PKI. CGMI waktu berdiri ideologinya tidak seneng ada partai-partai, malah mendukung Bung Karno untuk menyederhanakan partai-partai. Barangkali bung Wimar masih ingat di Bandung CGMI seperti Soekarno Yugen. Tahun 64 lain lagi. Untuk CGMI bisa berkembang harus menerima mewakili kom padahal sebenarnya dalam CGMI yang disebut kom itu mungkin anak-anaknya PKI yang mungkin tidak lebih dari 2 persen. Anggota CGMI tahun 64 sebanyak 18 ribu.

Pada waktu ditahan, Bapak menjadi anggota DPRGR mewakili didalam fraksi?

Saya tahun 60 diangkat oleh bung Karno ketika pembaharuan DPR ke DPRD, saya mewakili fraksi Golongan Karya Pemuda.

Fraksi Golkar ya, lucu juga. Tapi tentu keadaannya sangat berbeda. Kemudian Bapak ditahan kapan, berapa lama dan tuduhannya apa?

Saya ditahan mulai 10 November 66 dan bebas tanggal 9 Desember 79, dalam tuduhan yang disebut berindikasi G 30 S PKI. Jadi ditahan sesudah Super Semar.

Bapak tidak terlibat dalam G30S?

 Tidak, dan saya tidak pernah diadili.

Jadi pada waktu kegiatan mahasiswa yang melawan Sukarno, kegiatan Bapak di CGMI apa saja?

Kalau waktu melawan Sukarno tahun 65-66, saya sembunyi karena sudah mulai dikejar-kejar. Menyelamatkan diri.

Apa Bapak mempunyai pengalaman dengan orang-orang yang setelah dikejar-kejar kemudian ditangkap atau dibunuh, untuk mengungkap misteri sekitar pembunuhan tahun 66. Apa Bapak punya pengalaman pribadi?

Nggak ada cuma saya kan dikumpulkan dalam camp dengan bermacam-macam orang. Jadi saya bisa cerita macam-macam, saya mendengar.

Campnya di mana pak Har1doyo?

Saya pertama ditangkap dimasukan Kodim Kalong di Jakarta Pusat dekat Air Mancur, kemudian dipindahkan ke RTM, rumah tahanan militer, di Salemba sebentar, kembali lagi RTM. Jadi kalau diurut di RTM 8,5 tahun, di Nirbaya 1,5 tahun, selebihnya masa terakhir di Salemba.

Di RTM itu kan ada bermacam-macam orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan PKI atau komunisme, bahkan bukan orang kiri. Bahkan ada yang sekarang masuk pemerintahan. Bisa anda sebut beberapa rekan anda di RTM waktu itu?

Saya bersyukur bahwa saya bisa bertemu dengan segala macam teman dari semua kalangan, termasuk ketika Malari masuk saya ketemu Marsillam, Rahman Toleng, Sjahril, Hariman Siregar. Bahkan juga suami Megawati, Taufik Kemas.

Terus anda berdiskusi politik nggak waktu itu?

Tentu, itu kan kesempatan sangat bagus.

Apa yang anda bisa ceritakan secara singkat mengenai pandangan politik anda yang latar belakang CGMI dengan dengan orang-orang seperti itu dari mulai Hariman Siregar sampai Sjahril, Marsillam segala macam. Persamaan-perbedaannya dimana?

Saya kira pada waktu jaman bung Karno, kami semua percaya bahwa sosialisme Indonesia akan terjadi di Indonesia. Tapi tiba-tiba terjadi seperti itu kan seperti petir datang dan berubah segalanya. Kemudian kami lihat dan mendengar apa dan kenapa ada G30S, apa itu G30S, sampai hari ini bagi saya sesungguhnya masih misteri. Itu apa ?

Jadi G30S itu sebagai suatu peristiwa tidak diketahui oleh seorang aktivis CGMI seperti Bapak, seorang anggota DPR, G30S itu terpisah dari kegiatan CGMI?

Terpisah. Kami juga pernah mendengar semacam situasi politik katanya Dewan Jendral mau kudeta. Itu saja. Tapi tidak pernah ada satu persiapan bagaimana melawan kudeta, saya juga heran. Kalau PKI mau melawan kudeta, mestinya kan buruhnya dikerahkan, taninya dikerahkan, tapi itu tidak ada. Sepertinya orang antri mati saja.

Bapak kenal orang-orang yang tokoh PKI nggak?

Kenal banyak.

Apakah mereka terlibat G30S sebelum terjadinya?

Didalam penjara saya bertanya pada mereka dan hampir semuanya tidak tahu. Barangkali yang tahu cuma yang disebut biro khusus.

Biro khusus semacam biro politik dan orang dalam sekali ya?

Biro khusus itu seperti anak buahnya Samlah (maksudnya Sam Kamaruzaman). Itulah yang sampai sekarang juga menjadi misteri untuk kami, karena nggak pernah melihat wajah itu. Malah ada yang bilang, dari teman-teman PKI itulah partai in the party.

Sam Kamaruzaman yang misterius itu. Bapak 13 tahun dipenjara kemudian keluar, bagaimana kondisi dikeluarkannya Bapak, apakah setelah keluar bisa kembali aktif dalam masyarakat?

Keluarga saya kan ketakutan semua. Jadi ketika saya didalam penjara ada untung masih ada ibu saya dan beberapa adik saya yang tidak takut, masih mengirim makanan. Kalau nggak ada makanan, saya mesti hidup dari makanan penjara yang sangat tipis. Karena itu waktu teman-teman Malari datang ya kami merasa untung. Banyak makanan dari teman-teman Malari. Kami jadi lebih sehat dan banyak membantu kami memang.

Orang-orang seperti Sjahril, Marsillam, itu adalah aktivis bahkan pemimpin dalam gerakan mahasiswa angkatan 66, dan lawannya adalah rejim Sukarno, waktu di penjara anda merasa diri sebagai lawan politik mereka atau tidak?

Saya kira tidak. Pak Badio ketika saya masih SD, pernah bicara di Tulung Agung, waktu itu saya tanya Pak Badio kenapa begini ? Kita ini hanya menjadi korban perang dingin saja, diadu domba seperti itu. Itu kata-kata beliau yang sampai sekarang saya pikirkan.

Perang dingin dalam arti konteks internasional antara negara Barat dan negara Komunis. Kemudian pak Hardoyo keluar dari tahanan, masuk dalam masyarakat yang sudah dalam tahun kesekian pemerintah Suharto. Apa kesan-kesan waktu itu?

Kami tetap gagap, sebabnya takut, hidup ini bagaimana? Yang aneh, saat dibebaskan kami teken pernyataan 7 pasal, nggak boleh masuk partai, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Juga ada 9 pekerjaan yang tertutup bagi kami termasuk menjadi wartawan, jadi pendeta, jadi pengacara, guru, lalu kami juga meneken tidak akan menuntut ganti rugi pada pemerintah. Pikiran saya waktu itu yang penting saya bebas sebagai manusia biasa dan cari hidup. Saya segera ditolong oleh teman-teman seperti Aristides Katopo, Satyagraha Hoerip, yang memberikan saya pekerjaan untuk terjemahan. Kadang-kadang saya juga menjadi editor, selebihnya saya juga dibantu oleh adik-adik saya sambil masih marah-marah, kamu sudah ikut politik ya? Diam saja jangan ikut-ikut politik nanti keluarga susah. Saya peduli semua itu.

Sekarang bagaimana pendapat pak Hardoyo mengenai politik ini atau kalau ditarik cepat sekali dari sejak keluar jaman Suharto sampai kepada jatuhnya Suharto, bagaimana pandangan pak Hardoyo berubah?

Saya kaget, bagaimana kok Suharto bisa jatuh. Saya kaget sekali. Terlalu cepat perkembangan itu menurut logika saya.

Berapa banyak dari hak-hak warga negara pak Hardoyo masih dicabut sampai selesai rejim Suharto, apa yang masih tersisa atau sebagai cap pada pak Hardoyo?

Waktu rezim Suharto akan berakhir tahun 95 stigma ET dari KTP dicabut. Itu kami sedikit lega. Tapi instruksi Mendagri nomor 32 tahun 81, Amir Machmud pada waktu itu sampai sekarang belum dicabut sekalipun Gus Dur katanya sudah memerintahkan Mendagri yang sekarang untuk dicabut, tapi belum dicabut. Padahal itu banyak ketentuan yang membuat kami kena sejumlah diskriminasi. Misalnya kalau mau pindah rumah harus ada pihak ketiga yang bertanggung jawab. Itu sampai sekarang ketentuannya masih ada dan belum dicabut. Jadi kami sebenarnya masih terkena banyak pembatasan. Termasuk bekerja di 9 pekerjaan sekalipun dalam praktek sudah mulai longgar. Tapi saya dengar di Priok, teman saya yang tua-tua itu masih kena wajib lapor entah sebulan atau dua bulan sekali. Yogya juga katanya masih begitu.

Sekarang setahu pak Hardoyo, tahanan-tahanan politik yang berhubungan dengan G30S itu apa sudah keluar semua?

Semua sudah bebas, terakhir Latief Cs itu.

Jadi dalam pandangan bapak apa yang sekarang bisa diharapkan dalam suasana politik yang baru setelah bapak mengalami berbagai suasana politik. Sekarang bagaimana pandangan Bapak mengenai perkembangan politik di tanah air?

Saya kira bangsa Indonesia sekarang ini menghadapi globalisasi, saya pernah mendengar ini neo liberalisme yang akibatnya banyak membuat rakyat kecil menderita. Saya pikir warisan masa lalu termasuk berbagai konflik perlu diselesaikan, perlu ada rekonsiliasi. Jika tidak, mau kemana bangsa Indonesia ini? Barangkali semua kalangan termasuk kalangan saya sendiri harus berpikir, semua ambil bagian dari satu kesalahan masa lalu.

Ini berarti sekali ucapan Bapak, sebabnya kalau mau rekonsiliasi yang paling harus didengar suaranya itu para korban ketidakadilan dulu. Lalu kalau sekarang ada rekonsiliasi, bagaimana anda menutup buku terhadap ketidak adilan yang menurut persepsi Bapak telah melanda kehidupan Bapak dulu. Dibiarkan saja begitu?

Saya kira mungkin tidak seluruhnya. Saya setuju dengan gagasan Gus Dur untuk membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Mungkin kita bisa belajar dari Nelson Mandela, tapi kalau di Nelson Mandela kan hanya satu kasus, apartheid. Di Indonesia banyak sekali kasus tidak hanya tahun 65 yang menjadi korban dan luas jumlahnya kasus saya membayangkan betapa sulitnya. Tapi saya senang sekali mendengar katanya medio Maret nanti Menteri Yusril akan mengajukan rancangan Undang-undang komisi kebenaran dan rekonsiliasi ke DPR. Mudah-mudahan DPR sudah siap menghadapi itu. Kadang-kadang saya juga pesimis, kalau saya ingat omongannya Dr. Riswanda Himawan, bangsa Indonesia itu mengidap budaya tumpas kelor, akar politik harus dihabiskan. Ini susah untuk rekonsiliasi. Sekarang terbit bukunya Pramoedia Ken Dedes Ken Arok. Yang intinya sejarah mata rantai dendam yang terus menerus diantara raja-raja di Jawa. Malah kemarin ada satu seminar yang diadakan dalam rangka sebelas Maret, itu ada yang menceritakan, sebenarnya G30S itu kan seperti orang dibikin perangkap apa, bikin sombong, dan macam-macam, itu seperti dijadikan kebo ijo dalam kasus empu gandring. Tadi malam saya dengar itu.

PKI berhenti dalam satu peristiwa yang mendadak dan berdarah. Pemikiran-pemikiran didalamnya selain pemikiran komunis partai, tentunya banyak juga pemikiran kiri, pemikiran sosialis, yang mempunyai suatu validitas tertentu. Sekarang bagaimana pemikiran kiri di Indonesia, terwakili oleh siapa dan apa masih perlu jaman sekarang dibandingkan dengan dulu?

Saya kira sebagai satu pandangan kiri dalam arti membela untuk social justice dan sebagainya itu masih perlu. Bahkan mungkin sebagai semacam counter culture juga penting. Cuma yang perlu ditegaskan hantu yang dikatakan PKI masih hidup itu salah. Sudah finish, selesai. Coba gambarkan represif demikian hebat itu membuat trauma, anak-anak trauma, keluarga rata-rata 60 % ke atas cerai. Anak-anak menjadi anti orang tua, dan kalau pak Wimar lihat misalnya dari gerakan reformasi, apa ada anak komunisme. Tapi bahwa ada ide-ide tentang kiri dalam arti untuk social justice, kita lihat saja Dawam Raharjo, Adi Sasono. Apalagi sekarang banyak buku-buku yang tidak ditutup masuk Indonesia, pasti semua orang tahu, terbuka. Saya kira kalau menurut saya nanti kekuatan demokratis untuk di reformasi damai itu saya kira kaum kiri.

Bapak Hardoyo sebagai orang kalangan kiri, dan dekat dengan berbagai organisasi kiri, yakin sekarang misalnya PKI sudah mati dan komunis dokriner sudah mati. Tapi menurut perasaan bapak apakah keyakinan itu akan ada pada pihak tentara, pada pihak masyarakat lain, masih ada kecurigaan tidak terhadap PKI atau terhadap Bapak pribadi?

Saya kira iya, bahwa kecurigaan kan kita lihat beberapa teman dari komisi dua, atau Arief Budiman sendiri setelah kesini, ini gimana ?, semua boleh asal nggak dengan PKI. Artinya bahaya laten PKI sebagai satu musuh yang harus terus menerus ada itu diperlukan. Itu ilmiah atau tidak, ya silahkan dipikirkan para pakar, yang terang saya menyesalkan kenapa kaum demokrat, kaum humanis tidak membahas soal itu.

Apakah PKI perlu dievaluasi kembali dalam perspektif sejarah?

Klarifikasi mengenai PKI dan semuanya termasuk peristiwa 1 Oktober sangat perlu. Tempo hari LIPI kan sudah mulai dalam menjernihkan kasus 65 dimana Gerwani ternyata tidak memotong-motong para Jendral. Itu sudah ada visum, padahal berita itu sendiri cukup mengobarkan pembunuhan massal di daerah-daerah. Saya kira itu penting

Kalau Bapak melihat politik sekarang mulai yang konkritlah, seperti kawan-kawan di PRD atau gerakan mahasiswa, masuk kategori mana kalau dibandingkan dengan pemikiran rekan-rekan Bapak dulu?

PRD ini gerakan anak-anak muda yang radikal, tapi sama sekali bukan komunis. Saya senang ketika Budiman menjelaskan dia senang untuk memperjelas posisi dia, PRD ini hendaknya disamakan dengan Partai Buruh Brazil yang kalah sedikit suara diluar Cardozo, sebuah partai sosialis tapi didalamnya banyak faksi, dan itu demokratis sekali. Kalau sudah demikian mau dicap komunis yang macam mana PRD ini.

Menurut Bapak apakah kiri itu kiri seperti PRD atau yang ada dalam organisasi kelompok-kelompok yang tidak terorganisir akan mempunyai kontribusi terhadap warna politik atau struktur politik dimasa depan yang 5,10 tahun ini?

Saya kira ya, saya sudah mulai melihat bahwa kelompok-kelompok sosial demokrasi akan tumbuh di mana-mana dengan latar belakang bisa Islam, Kristen, bisa juga tidak apa-apa, nasionalis, itu nanti akan mewarnai pertumbuhan pemikiran kiri baru di Indonesia.

Salah satu issu yang sekarang muncul di dalam dan diluar organisasi politik adalah yang tadi Bapak singgung juga globalisasi, internasionalisme. Komunisme itu kan sangat internasional sebetulnya tapi sangat anti kapitalistik. Sekarang kalau kita bicara internasional, itu dengan sendirinya adalah kapitalisme karena komunisme internasional tidak ada. Tadi Bapak mengatakan agar waspada terhadap globalisme tapi lawannya apa, nasionalisme atau bagaimana itu penyeimbangnya?

Saya kira bagi negara-negara yang sedang berkembang mau tidak mau menuju ke kapitalis. Cuma kalau istilah teman-teman kapitalisme yang berkeadilan, dan memang sosial demokrasi yang bisa menghadapi ini. Seperti kita ditekan IMF, teman-teman PRD menyuarakan soal kenaikan harga listrik dan minyak. Itu kan sebenarnya mendukung Gus Dur untuk berani melawan IMF, supaya jangan sampai korbannya orang kecil terlalu banyak. Saya kira seperti itu saja, tapi tidak anti kapitalisme.

Berarti soal pasar bebas sebagai satu prinsip ekonomi, Bapak tidak berkeberatan pada saat ini?

Kenyataan didunia sekarang seperti ketika saya berbicara di Melbourne, ketika saya mau bebas saya ditanya apakah Pak Hardoyo masih Marxis komunis? jawaban saya dari Marxisme yang saya ambil, bahwa yang abadi adalah perubahan. So Iam what Iam, lihat saja nanti kalau saya bebas, apakah saya Marxis atau neo fasis.

Mengenai hubungan dengan TNI bagaimana, pasti Bapak pengalamannya banyak dengan TNI, ABRI jaman dulu. Arah perkembangan masyarakat dalam memandang TNI itu bagaimana?

Hubungan dengan TNI yang paling sering ketika saya di DPR, saya kan satu fraksi sama TNI, praktikal dengan Golongan Karya. Jadi saya mempelajari jalan pikiran mereka. Saya pikir kalau dalam sejarah, TNI juga korban sejarah kok sebetulnya, kenapa sampai menjadi seperti begini. Nah, sekarang dalam jaman demokrasi memang perjuangan TNI dalam demokrasi penting sekali.

Sepertinya ideologi memang sudah mati barangkali di dunia atau di Indonesia, karena Bapak saja sangat realistis bahkan pragmatis dalam melihat jalannya sejarah. Bagaimana kemudian jaminan kemanusiaan kedepan, hak azasi manusiakah, atau di agama, bagaimana nantinya kan nggak bisa juga kita terlalu melihat realitas?

Saya belum pernah membaca bukunya Fukuyama tentang ideologi. Barangkali kalau kita bicara konsep ideologi dulu, ideologi itu apa ? Manifestasi kepentingan kelas, golongan, kelas dalam arti sosiologi dulu. Saya tidak tahu apakah itu slogan mati apa tidak, tapi saya pikir dunia kita sekarang lebih melihat masalah manusia lebih tajam. Seperti juga generasi hak azasi manusia pertama tahun 48 itu sangat individualistis, tapi kemudian pada generasi kedua, ketiga sudah mulai kelompok, sosial, golongan. Jadi tidak saja liberalistis masih ada pengertian kolektif dan sebagainya. Itu kan menarik. Jika demikian halnya, pikiran-pikiran yang dulu hidup membela kapitalisme juga diimbangi pengertian sosialisme dalam sejumlah konvensi human right ini. Karena itu saya berpendapat perjuangan untuk demokrasi dan HAM itu nomor satu.

Kalau memang terjadi komisi kebenaran dan rekonsiliasi, atau gerakan kebenaran dan rekonsiliasi, apa pak Hardoyo bersedia untuk aktif menyuarakan pendapatnya dalam pihak yang mempromosikan rekonsiliasi?

Saya tempo hari diundang di antara 31 orang oleh Elsam untuk menyusun Rancangan Undang-undang untuk RUU kebenaran itu, dan yang jelas sudah selesai. Katanya nanti disumbangkan pada pemerintah, medio Maret akan dibawa ke DPR. Saya tentu akan mendukung itu karena itu pendidikan politik dan kebudayaan yang baik untuk bangsa.

Sumber : http://www.perspektifbaru.com

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 22, 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: