Dua Puisi untuk Sastrawan Lekra

SELAMAT JALAN SOBRON, DHARTA, TUTI…

Selamat jalan, Sobron
Selamat jalan, Dharta
Selamat jalan, Tuti
kutahu ini hanya perpisahan sementara
dan kita di sini menunggu sepi

sejarahmu, sejarah kalian sudah pasti
di sini aku menunggu sepi

sejarah harus ditulis sendiri, ternyata
siapa pun penguasa yang naik takhta
kita tak peduli
toh sejarah ditulis orang-orang yang menang

karenanya sejarah harus kita tulis sendiri

mereka tak pernah tahu
apa nasib kita hari ini
tapi sejarah ditulis
dan kita tersingkir
dari badan kita sendiri

kita, kata wiji thukul,
sulit menjadi diri sendiri
di negeri ini

Selamat jalan, Tuti
Selamat jalan, Dharta
Selamat jalan, Sobron…

selama ini kau rajin menemuiku di layar komputerku
yang mulai kabur
aku tak tahu, apakah layarnya yang buram
atau mataku yang rabun
tapi aku harus mengenal dan mengenangmu
seorang manusia indonesia
yang sepi di negeri sendiri
yang sejarahnya tak pernah tertulis
dengan rapi
selain kecaman demi kecaman
tak ada cinta

di luar, angin bergemuruh
kita berdekapan di ruang yang tak biasa
bicara tentang segala yang tak biasa
secara apa adanya
tapi ada saja yang luput dari pembicaraan kita
airmata!
airmata!

airmatamu kering
bersama lukamu kering
yang hanya bisa mengalir deras di airmataku…

NB: judul puisi saya pinjam dari judul esai Linda Christanty, “Wiji Thukul, Seorang Kawan”

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 22, 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: