Revolusi Oktober 1917

Oleh Tess Lee Ack

Revolusi Oktober merupakan kemenangen terbesar yang diraih oleh kelas pekerja sampai sekarang. Meski peristiwa-peristiwa tahun 1917 sudah lama menjadi sejarah, namun kita dapat banyak belajar dari revolusi tersebut.

Slogan Bolsevik: “Tanah, pangan, perdamaian” mencerminkan aspirasi rakyat pekerja Rusia dan argumentasi kaum Bolseyvik semakin mengambil hati rakyat. Namun Pemerintahan Transisi tidak setuju dengan tuntutan tersebut dan tidak ingin berjuang melawan kaum tuan tanah dan pemilik modal; pemerintahan itu malah melihat gerakan buruh sebagai musuh utuma. Karena terprovokasi oleh serangan kaum majikan dan oleh ofensif militer baru di garis depan, kaum buruh dan prajurit menyelenggarakan sederetan demonstrasi pada bulan Juli. Tidak sedikit di antara mereka yang sudah ingin menumbangkan Pemerintahan Transisi.

Partai Bolsyevik berpendapat, walau massa rakyat sudah siap untuk revolusi di ibukota, namun di kota-kota lain belum demikian, sehingga sebuah insureksi yang bisa berhasil di ibukota kemudian akan terisolasi dan dihancurkan. Tetapi sebagai partai revolusioner mereka tidak boleh menjauhkan diri dari perjuangan massa rakyat. Jadi mereka ikut serta dalam demonstrasi-demonstrasi sekaligus mengusulkan kesabaran. Karena sikap itu kelompok Bolsyevik kehilangan dukungan di berbagai sektor militan. Namun mereka berhasil menjaga kedisiplinan gerakan secara kesuluruhan dan menghindari terjadinya sebuah insureksi yang berkecepatan.

Pada minggu-minggu berikutnya, Pemerintahan Transisi menjalankan represi yang tajam. Para pimpinan Bolysevik ditangkap dan difitnah sebagai mata-mata Jerman. Pers Bolsyevik dilarang, dan para aktivis harus bergerak di bawah tanah. Lenin sendiri harus bersembunyi.

Untuk sementara waktu, gerakan buruh terdemoralisasi dan mengalami kemunduran. Di tempat-tempat kerja, para majikan berusaha merebut kembali kontrol atas proses produksi. Namun kelas buruh masih memiliki soviet-soviet mereka, sehingga serangan kaum majikan akhirnya gagal. Sedangkan kaum tani, yang tidak sabar lagi menunggu pembagian tanah oleh Pemerintahan Transisi, akhirnya mulai mengambil alih tanah secara sepihak.

Ofensif di garis depan gagal, lantas tentara mulai bubar, karena para prajurit melarikan diri dan pulang ke desa. Melihat ini, sebagian dari kaum penguasa dan Jendral Kornilov memutuskan untuk melakukan kudeta guna mencopot kepala Pemerintahan Transisi, Kerensky. Namun cukup jelas bahwa sasaran mereka bukan hanya Kerensky, tetapi juga gerakan revolusioner dan soviet-soviet. Oleh karena itu, Partai Bolsyevik membentuk sebuah front persatuan dengan kekuatan-kekuatan yang masih loyal kapada Pemerintahan Transisi. Tetapi sementara mereka mengarahkan mobilisasi buruh dan tentara untuk mengalahkan Kornilov, mereka juga melakukan sebuah “perang” politik melawan Kerensky.

Mereka menuntut agar kaum buruh dipersenjatai guna melawan kontra-revolusi, dan untuk memperjuangan tanah, pangan serta perdamaian. Hanya dengan cara itu semangat massa rakyat dapat dikobarkan untuk mengalahkan musuh.

Dalam kurun waktu beberapa hari, kudeta Kornilov ambruk. Kemenganan di arena perang ini disertai dengan sebuah kemenangan politik, karena kaum Bolsyevik semakin mendapat dukungan kelas buruh, dan kelas buruh itu semakin sadar akan perlunya revolusi sosialis.

Mulai saat itu situasi politik ditransformasikan. Suasana dalam tubuh kelas buruh semakin radikal dan hal itu dicerminkan dalam komposisi soviet-soviet. Para utusan di soviet itu dapat diganti sewaktu-waktu, sehingga menjelang akhir Augustus Partai Bolsyevik meraih mayoritas dalam soviet Petrograd, dan beberapa waktu kemudian juga menguasai soviet di Moskow. Trotsky menjadi presiden soviet di ibukota seperti pada tahun 1905. Waktu itu Partai Bolsyevik sudah menjadi organisasi utama dalam kelas buruh, dan mendapatkan dukungan yang kuat dari para prajurit dan petani. Jumlah anggota mereka telah naik dari beberapa ribuan pada bulan Maret menjadi seperempat juta. Sehingga secara obyektif sebuah revolusi sudah mungkin. Namun kesadaran massa tidak merata. Di sektor-sektor buruh yang paling maju, angka aksi mogok mulai menurun, sedangkan beberapa sektor lain baru mulai melakukan aksi mogok seperti itu.

Fenomena ini amat berarti. Kaum buruh yang paling maju sudah menarik kesimpulan, pemogokan biasa tidak lagi mencukupi. Bahwa tuntutan-tuntutan buruh — baik yang ekonomi maupun yang politik — tidak bisa terpenuhi dalam tatanan sosial yang ada. Sementara kaum buruh yang kesadarannya masih kurang, juga sudah terjepit dalam konflik dengan para majikan; kemudian mereka akan menarik kesimpulan yang sama pula. Seperti tulis Trotsky:

Suasana revolusioner dalam massa rakyat menjadi lebih kritis, lebih mendalam, lebih resah. Massa — terutama mereka yang pernah melakukan kesalahan dan mengalami kekalahan — mencari kepemimpinan yang bisa diandalkan. Mereka mau merasa yakin bahwa kita mampu dan berkeinginan untuk memimpin, dan bahwa dalam pertempuran yang menentukan mereka dapat mengharapkan kemenangan … Kaum proletarian mengatakan: tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari pemogokan, demonstrasi dan aksi protes saja. Sekarang kita mesti bertempur.”\

Setelah kudeta Kornilov gagal, Lenin makin mendesak agar kaum Bolsyevik melakukan taktik yang lebih agresif. Pada hemat Lenin, dalam keadaan yang semakin tidak stabil, kelas buruh harus maju mengambil alih kekuasaan, atau mereka akan dihancurkan oleh kelas penguasa. Pembantaian kaum buruh ketika Komune Paris kalah, dan represi yang tajam setelah gagalnya revolusi tahun 1905, menjadi peringatan bagi dia. Di masa krisis politik, sosial dan ekonomi yang tajam, peralihan secara damai ke demokrasi borjuis tidak mungkin terjadi. Seperti yang Trotsky tulis kelak: andaikata kaum buruh tidak mengambil alih kekuasaan pada tahun 1917, perkataan “fasisme” akan berasal dari Bahasa Rusia bukan Bahasa Italia.

Dalam sebuah pamflet berjudul “Marxisme dan Insureksi” yang beredar secara luas, Lenin memaparkan prasyarat-prasyarat untuk pemberontakan revolusioner. Mereka harus “mengambil hati mayoritas rakyat”, dan hal ini harus “terbukti dengan fakta-fatka obyektif” seperti tercapainya sebuah mayoritas dalam soviet-soviet, popularitas besar untuk program perjuangan Bolsyevik, dukungan dalam tentara dan di antara kaum tani, dan hilangnya kredibilitas pemerintahan yang ada untuk menyelesaikan perang dan memulihkan ekonomi.

Pada hemat Lenin, semua prasyarat ini sudah terpenuhi. Tetapi bagaimana caranya untuk menyelenggarakan pemberontakan tersebut?

Para soviet telah mendirikan sebuah Komite Militer Revolusioner guna membela revolusi melawan Kornilov. Trotsky meyakinkan Lenin bahwa Komite inilah (dan bukan organ-organ Partai Bolsyevik) yang harus menjadi wahana insureksi, karena para soviet mewakili seluruh kelas pekerja.

Saat itu Lenin dan Trotsky masih juga harus menghadapi perlawanan di dalam Partai Bolsyevik sendiri. Mereka didukung secara solid oleh basis partai (termasuk banyak buruh yang baru terradikalisasi). Namun sebagian dari kader lama agak kewalahan oleh perkembangan tahun 1917 yang begitu cepat, serta terintimidasi oleh represi yang mereka alami pada bulan Juli.

Lebih parah lagi, pada saat Lenin, Trotsky dan Komite Militer Revolusioner sedang merencanakan insureksi, dua tokoh Bolsyevik terkemuka, Zinoviev dan Kamenev, melakukan perlawanan. Beberapa hari sebelum insureksi terjadi, mereka memberikan informasi tentang insureksi itu kepada sebuah koran non-Bolsyevik. Lenin naik darah dan menuntut agar mereka dipecat, tetapi mayoritas Komite Sentral tidak setuju. Fakta-fakta ini agak bertentangan dengan prasangka sayap kanan bahwa Partai Bolsyevik itu otoriter dan Lenin seorang diktator.

Di bawah kepemimpinan Trotsky, soviet Petrograd menyatakan, perintah-perintah para komandan militer tidak boleh dilaksanakan sebelum perintah itu disetujui oleh Komite Militer Revolusioner. Pemerintah meresponnya dengan melarang pers Bolsyevik, menangkap Trotsky serta melakukan rencana untuk menangkap seluruh kepemimpinan Bolsyevik.

Sudah saatnya untuk pihak revolusioner bertindak. Pada malam tanggal 24 Oktober, rombongan-rombongan buruh mengambil alih stasiun-stasiun kereta api, kantor-kantor pos, sentral-sentral telpon, gudang-gudang amunisi, bank-bank dan perusahaan-perusahaan percetakan. Hampir tidak ada perlawanan, sehingga esok siang pada jam 10:00 kaum Bolsyevik bisa mengumumkan bahwa Pemerintahan Transisi telah tumbang. Istana Musim Dingin memang harus diserbu oleh pasukan Bolsyevik, tetapi pengambil-alihan Istana juga terjadi tanpa pertumpahan darah. Pemerintahan Transisi tersebut begitu kehilangan kepercayaan rakyat sehingga tidak ada kekuatan yang penting dalam masyarakat yang berani membelanya. Di Moskow terjadi pertempuran tertentu. Namun dalam waktu dekat, revolusi sudah menang.

Pada tanggal 26 Oktober, kongres soviet mendirikan pemerintahan baru yang dikuasai oleh Partai Bolsyevik, dengan partisipasi kaum Sosialis-Revolusioner dan berbagai tokoh Mensyevik. Pemerintahan baru ini menyatakan bahwa semua tanah akan menjadi milik kaum tani (pernyataan ini memang hanya mengabsahkan sebuah proses yang sudah berjalan di lapangan) dan menuntut agar perang diselesaikan tanpa pencaplokan oleh pihak yang mana pun.

Pemberontakan Bolsyevik pada bulan Oktober 1917 sering dilukiskan sebagai semacam kudeta. Dalam praktek, semua insureksi tentu saja akan dijalankan oleh sebuah minoritas. Tingal bertanya, apakah insureksi tersebut disokong oleh mayoritas, dan siapa yang memegang kekuasaan dalam tatanan sosial baru.

Kudeta yang dilakukan oleh Pinochet di Chile pada tahun 1973, misalnya, jelas tidak didukung oleh massa rakyat. Ribuan buruh dibunuh atau dipenjara. Hal itu berbanding terbalik dengan revolusi Bolsyevik, yang disokong oleh mayoritas. Ini dikonfirmasi oleh para lawan pula. Sukhanov, seorang pakar sejarah Mensyevik, menulis: “Menggelikanlah bicara tentang sebuah konspirasi militer … padahal, partai [Bolsyevik] diikuti oleh mayoritas besar rakyat …” Sedangkan Martov, seorang pimpinan Mensyevik, mengatakan: “Harap mengerti, yang terjadi di depan mata kita adalah sebuah kebangkitan kaum proletariat — hampir seluruh proletariat mendukung Lenin serta berharap mencapai emansipasi mereka lewat kebangkitan ini.” Sejarawan Robert Service, yang bukan pendukung kaum Bolsyevik, menulis: “Pokoknya … program politik Bosyevik semakin mengambil hati massa buruh, prajurit dan petani … tanpa hal ini, revolusi Oktober tidak mungkin terjadi.”

Namun wartawan Amerika John Reed mungkin melukiskan kenyataan itu dengan paling mengharukan. Dia mengingat suasana di Petrograd sesudah terjadinya insureksi. “Seorang pekerja tua yang mengendarai mobil kami memegang stir dalam satu tangan, sambil tangan lainnya terayun menunjuk ke ibukota bersinar. ‘Milikku!’, teriaknya dengan wajah bercahaya. “Sekarang punyaku semua! Petrogradku!’”

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 21, 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: