PENGGUSURAN MASYARAKAT PANTAI TALISE DAN BESUSU BARAT 2002

Keinginan menata kota Palu supaya lebih terlihat cantik kali ini membawa akibat akan digusurnya masyarakat pantai Talise dan Besisi Barat dari lingkungan tinggalnya selama ini.Ambisi pemerintah Kota Palu untuk menjadikan kawasan pantai Talise sampai pantai Besusu Barat salah satu daerah wisata dan jalur hijau dengan mengambil referensi dari penataan pantai dari daerah lain ternyata boleh disebut sebagai upaya pemiskinan struktural pada sebagian masyarakatnya. Bagaimana tidak, masyarakat pantai yang kehidupan ekonominya sangat bergantung pada lingkungannya karena mereka bekerja sebagai nelayan dan sebagian lainnya, terutama ibu-ibu dan janda membuka warung dimalam hari, akan dipindahkan (direlokasi) ke Layana sebuah daerah yang sangat berbeda ekosistemnya dengan pantai, sehingga mau tidak mau masyarakat yang terbiasa dengan nelayan atau pencari nener tercabut dari akar kehidupannya.

Belum lagi ditambah oleh kenyataan bahwa pemukiman Layana yang dimaksudkan sebagai tempat relokasi masyarakat pantai ternyata belum bisa dibilang siap. Rumah tempat pindah masyarakat hanya disediakan berupa tiang yang sudah berdiri dan atap tanpa dinding maupun lantai, fasilitas seperti air bersih belum tersedia secara memadai.

Ditengah situasi ekonomi yang begini sulit (bahkan pemerintahpun amat sangat menyadarinya) adalah sulit bagi masyarakat pantai untuk menyiapkan dana ekstra bagi pembangunan tempat hunian yang sekarang disediakan oleh Pemda menjadi layak, karena bahkan untuk memenuhi kebutuhan hariannyapun sudah susah. Belum lagi uang transportasi bagi anak-anak sekolah yang harus ditambah karena jarak rumah yang semakin jauh dari sekolah.

Sulit rasanya untuk percaya bahwa pemerintah Kota Palu tidak tahu bahwa dalam sebuah relokasi, apalagi ketempat yang berbeda ekosistemnya pasti butuh masa adaptasi yang tidak sehari dua hari, dan disaat ekonomi sedang krisis seperti ini masyarakat korban relokasi akan mendapat uang ekstra dari mana lagi? Karena yang sekarangpun mereka untuk bertahan hidup saja sudah terasa sulit. Lantas ini bisa disebut apa selain bahwa pemerintah Kota Palu sedang berusaha agar sebagian rakyatnya semakin miskin.

Pemerintah Kota seharusnya membuat analisis kemungkinan tentang prospek ke depan daerah Layana sebagai daerah relokasi, tapi masalahnya saat ini masyarakat harus terus hidup dengan kebutuhannya, sementara proyeksi pemerintah tentang segala hal-hal yang menjanjikan itu tidak akan terjadi sekarang. Bahkan denga alasan klise bahwa dana pemerintah tidak cukup untuk memberi dinding pada rumah yang akan ditempati di Layana. Kemudian pertanyaannya adalah, sahkah pemerintah denga alasan kurang dana memaksa dan kemudian membiarkan masyarakat pantai untuk hidup lebih sulit dari yang mereka jalani selama ini di pantai.

Disadari sepenuhnya bahwa tidak seorangpun dari warga Kota Palu ini yang tidak menginginkan kotanya menjadi lebih cantik, termasuk warga pantai, tapi problemnya adalah saat ini mereka masih baru pada taraf pemenuhan kebutuhan primer mereka berupa pangan, belum sampai pada kebutuhan tersier berupa pemandangan kota yang indah. Apakah berat bagi pemerintah Kota Palu untuk sedikit lebih berpihak kepada warganya yang saat ini berada dalam situasi ekonomi yang belum mapan, jelasnya apakah pemerintah kota tidak mau memperhatikan warganya yang kebetulan saat ini hidup miskin?

Jika keberpihakan kepada masyarakat yang lebih sulit situasi ekonominya (sedikit saja) ada, maka rasanya pemerintah kota tidak akan beralasan kekurangan dana jika hendak merelokasi masyarakatnya atau kalaupun masalah dana tetap dikedepankan, adalah tidak wajar merelokasi masyarakat tanpa kesiapan sarana termasuk jaminan masa adaptasi selama awal-awal mendiami pemukiman baru. Selali lagi pantas dipertanyakan keberpihakan pemerintah kota kepada warganya yang kebetulan miskin.

Karena itu kami menolak cara-cara pemerintah Kota untuk menggusur masyarakat pantai dan berelokasi di Layana, jika pemerintah tidak siap akan jaminan kehidupan yang lebih baik bagi mereka.

About these ads

~ oleh Anti Capitalism pada Januari 23, 2008.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: