Dua Puisi untuk Sastrawan Lekra
SELAMAT JALAN SOBRON, DHARTA, TUTI…
Selamat jalan, Sobron
Selamat jalan, Dharta
Selamat jalan, Tuti
kutahu ini hanya perpisahan sementara
dan kita di sini menunggu sepi
sejarahmu, sejarah kalian sudah pasti
di sini aku menunggu sepi
sejarah harus ditulis sendiri, ternyata
siapa pun penguasa yang naik takhta
kita tak peduli
toh sejarah ditulis orang-orang yang menang
karenanya sejarah harus kita tulis sendiri
mereka tak pernah tahu
apa nasib kita hari ini
tapi sejarah ditulis
dan kita tersingkir
dari badan kita sendiri
kita, kata wiji thukul,
sulit menjadi diri sendiri
di negeri ini
Selamat jalan, Tuti
Selamat jalan, Dharta
Selamat jalan, Sobron…
yang mulai kabur
aku tak tahu, apakah layarnya yang buram
atau mataku yang rabun
tapi aku harus mengenal dan mengenangmu
seorang manusia indonesia
yang sepi di negeri sendiri
yang sejarahnya tak pernah tertulis
dengan rapi
selain kecaman demi kecaman
tak ada cinta
di luar, angin bergemuruh
kita berdekapan di ruang yang tak biasa
bicara tentang segala yang tak biasa
secara apa adanya
tapi ada saja yang luput dari pembicaraan kita
airmata!
airmata!
airmatamu kering
bersama lukamu kering
yang hanya bisa mengalir deras di airmataku…
NB: judul puisi saya pinjam dari judul esai Linda Christanty, “Wiji Thukul, Seorang Kawan”

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.